Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2022

Si Kaya dan Si Miskin

Diceritakan jaman dahulu di sebuah desa ada dua orang dengan hidup yang berbeda. Yang satu hidup bergelimang harta bernama Ni Sugih, yang satu lagi hidup serba kekurangan bernama Ni Tiwas. Mereka bertetangga namun beda gaya hidup dan perilaku. Ni Sugih yang kaya dikenal sombong, dengki dan suka mengerjai orang, sedangkan Ni Tiwas yang miskin dikenal baik hati dan suka menolong orang.

Baca juga : https://arinegara19.blogspot.com/2022/03/enjelimet.html

Suatu hari Ni Tiwas meminta api untuk masak ke rumah Ni Sugih. Sampai disana Ni Sugih meminta Ni Tiwas untuk mencuci pakaian dahulu sebelum meminta api. Sebagai imbalan Ni Sugih juga akan memberi sekilo beras. Dengan senang hati Ni Tiwas segera mencuci pakaiannya Ni Sugih. Setelah selesai mencuci dan pakaian sudah terjemur Ni Tiwas langsung pulang dengan membawa api dan beras.

Sesampai di rumah, Ni Tiwas segera menyalakan kayu bakarnya dan menanak nasi. Sedangkan Ni Sugih memikirkan ide jahat untuk mengambil kembali api dan beras yang sudah diberikannya ke Ni Tiwas. Segera Ni Sugih mengambil secuil tanah dan sengaja dioleskan kesalah satu pakaiannya. Ni Sugih kemudian menuju ke rumah Ni Tiwas sambil membawa pakaiannya yang kotor. Sesampai disana Ni Sugih marah-marah membilang Ni Tiwas tidak becus mengerjakan cuciannya. Sebagai ganti rugi Ni Sugih meminta kembali api dan berasnya. Namun Ni Tiwas membilang bahwa berasnya sudah dimasak. Ni Sugih meminta beras yang sudah jadi nasi dan kayu bakar yang masih utuhlah akan dipakai penggantinya. Dengan arogan Ni Sugih membawa nasi yang baru matang dan kayu bakar yang masih utuh diambilnya. Ni Tiwas tidak bisa berkata apa-apa melihat tingkah polah Ni Sugih.

Suatu hari Ni Sugih baru saja selesai memanen padi. Untuk menumbuk padi tersebut untuk menjadi beras, Ni Sugih meminta bantuan lagi ke Ni Tiwas untuk menumbuk padi. Dengan imbalan akan diberi dua kilo beras. Ni Tiwas yang hidup serba kekurangan mengiyakan permintaan Ni Sugih agar mendapat beras untuk makan sehari-hari.  Segeralah Ni Tiwas pergi ke rumah Ni Sugih untuk menumbuk beras. 

Hari telah sore dan Ni Tiwas sudah menyelesaikan tugasnya menumbuk padi. Dia pun pulang membawa dua kilo beras dari pemberian Ni Sugih. Keesokan harinya, dipagi hari Ni Tiwas menanak nasi dari beras yang didapatnya kemarin. Disisi lain Ni Sugih mencari akal-akalan lagi untuk mengerjai Ni Tiwas. Setelah mendapatkan ide, Ni Sugih pergi ke rumah Ni Tiwas membilang bahwa beras hasil tumbukannya kemarin kotor dan masih banyak kulit-kulit padinya. Ni Sugih pun meminta ganti rugi dengan meminta berasnya yang kemarin. Lagi-lagi Ni Tiwas membela diri bahwa berasnya sudah matang menjadi nasi. Ni Sugih lagi-lagi meminta nasinya tersebut sebagai ganti. 

Melihat nasinya dirampas, Ni Tiwas nelangsa meratapi nasibnya menjadi orang miskin. Untuk mengganti nasinya yang telah dirampas, Ni Tiwas pergi ke hutan untuk sekadar mencari sayur-sayuran untuk dimakan. Sedang asyik mememetik daun paku, tiba-tiba muncul seekor kijang. Kijang itu tiba-tiba berbicara seperti manusia menanyakan Ni Tiwas sedang apa sendiri di tengah-tengah hutan. Ni Tiwas pun menjawab bahwa dia sedang mencari sayur-sayuran untuk dimakan. Tiba-tiba kijang itu menyuruh berhenti mencari sayur-sayuran dan menyuruh Ni Tiwas untuk memasukkan tangannya kedubur si Kijang. Ni Tiwas yang memang lugu dan polos mau saja memasukkan tangannya kedubur Kijang tersebut. Tiba-tiba setelah menarik tangannya kembali, tangan Ni Tiwas dipenuhi dengan kalung emas, gelang emas dan cincin emas. Dia pun bersorak kegirangan dan mengucap syukur. Saat dia akan menyapa si kijang untuk berterima kasih, tiba-tiba kijang itu sudah hilang begitu saja.

Sesampai di rumah, Ni Tiwas membagi-bagi perhiasannya ke anak-anaknya. Saat anak-anaknya keluar memakai perhiasan emas, dilihatlah sama Ni Sugih. Ni Sugih heran darimana anak-anak Ni Tiwas mendapatkan perhiasan. Dia pun kemudian menuju ke rumah Ni Tiwas dan menanyakan darimana dia mendapat perhiasan sebanyak itu. Ni Tiwas menjawab dengan polos bahwa dia dapat dari dubur seekor kijang yang ditemuinya di hutan.

Mendengar Ni Tiwas seperti itu. Ni Sugih pun tergesa-gesa menuju ke hutan menyamar menjadi orang miskin yang mencari sayur-sayuran seperti Ni Tiwas. Tidak begitu lama muncullah kijang tersebut dan menanyakan Ni Sugih. Ni Sugih mengaku bahwa dia hanya orang miskin yang sedang mencari sayur-sayuran. Kijang itu pun menyuruh Ni Sugih untuk berhenti mencari sayur dan menyuruh memasukkan tangannya kedubur si Kijang. Dengan hati yang begitu senang, Ni Sugih tanpa pikir panjang memasukkan tangannya dan tiba-tiba si kijang lari. Ni Sugih yang tangannya masih tersangkut didubur si kijang terseret-seret dibawa lari oleh si kijang. Sesampai di tepi sebuah jurang Ni Sugih ditendang oleh si kijang sampai Ni Sugih babak belur karena terjatuh ke jurang. Ni Sugih meringis kesakitan sambil meminta ampun ke si kijang. Si kijang pun memberi tahu bahwa itu pelajaran untuk Ni Sugih yang selama ini suka mengerjai Ni Tiwas. Ni Sugih meminta ampun dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.







Jumat, 04 Maret 2022

Nyoman Jater dan Ni Blenjo

Dikisahkan di sebuah desa hidup seorang petani bernama Nyoman Jater. Dia hidup besama istrinya bernama Ni Blenjo. Istrinya ini dikenal sebagai seorang yang sok pintar dan seakan-akan tahu semua hal di desa tersebut. Namun Nyoman Jater tetap setia dan sabar menghadapi tingkah laku istrinya itu. Karena seorang petani kecil, mereka hidup seadanya. Makan pun mereka kadang hanya makan sayur dan berlauk kakul (keong sawah) yang didapat dari sawah.

Diceritakan pada suatu hari Nyoman Jater diajak menangkap ikan ke sungai oleh teman-teman di desanya. Di pagi hari itu Nyoman Jater menyuruh istrinya agar menyiapkan bumbu-bumbu dapur untuk masakan seandainya dia mendapatkan ikan. Ni Blenjo pun mangut-mangut kepada Nyoman Jater.

Sesampai di sungai Nyoman Jater menyiapkan jala dan pancing untuk menangkap ikan bersama teman-temannya. Mungkin mereka kurang beruntung, sampai siang hari tidak satu pun ikan didapatnya. Sampai ketika pancing Nyoman Jater bergerak pertanda ada ikan terpancing.  Setelah pancing diangkat ternyata Nyoman Jater mendapatkan seekor ikan sidat yang cukup panjang. Dia pun bersorak kegirangan. Karena merasa lelah, Nyoman Jater memutuskan untuk pulang karena matahari semakin terik.

Sesampai dirumah Nyoman Jater memanggil istrinya yaitu Ni Blenjo untuk mengolah ikan sidat tersebut. Ni Blenjo kaget bukan kepalang melihat suaminya itu terlihat membawa ular dan menyuruh untuk membuangnya. Nyoman Jater pun geleng-geleng kepala melihat istrinya tersebut sembari membilang “Beh, Kaden seken nyai dueg, ne boya je lelipi, ne meadan be julit”. Yang artinya “aduh kukira beneran kamu pintar, ini bukan ular melainkan ikan sidat”. Ni Blenjo pun mengambil ikan tersebut dan ditinggal oleh Nyoman Jater ke sawah. Nyoman Jater membilang agar Ni Blenjo segera memasak ikan tersebut agar nanti sepulang dari sawah ikan itu sudah jadi.

Ni Blenjo berpikir bagaimana cara dia untuk mengolah ikan tersebut. Diambilah wajan dan ditaruhnya ikan sidat tersebut diatas wajannya. “Peh sing nyandang payuk e ne, bes dawe be ne”. Artinya “aduh tidak muat wajannya, ikannya terlalu panjang”. Begitu dia berpikir, kemudian dia pergi ke tetangganya untuk meminjam wajan yang lebih besar. Dia pergi ke rumah tetangganya sebelah timur, namun tidak punya wajan yang lebih besar dari punyanya. Dia pun pergi ke rumah tetangganya sebelah barat, namun juga tidak punya. Sesampai  kembali di rumah, Ni Blenjo malah masuk ke kamar narik selimut dan tidur.

Hari sudah sore Nyoman Jater pun sampai di rumah dan melihat ikan sidatnya masih tergantung di dapur. “Yaih, orain ngencanin be e, adi nu megantung dini”. Artinya “Aduh, disuruh ngolah ikan, kok masih tergantung disini”. Gerutu Nyoman Jeter. Dia pun menuju ke kamar dan melihat Ni Blenjo tidur berselimut. Ni Blenjo mengaku dirinya lagi sakit kepala sambil pura-pura menggigil. Nyoman Jater yang tahu akan tingkah polah istrinya pun geleng-geleng kepala sambil berpikir “Ne be pragat ngaku dueg, orahin ngencanin be mone be ngaku-ngaku gelem”. Artinya “ Ini sudah selalu mengaku pintar, disuruh mengolah ikan segini saja sudah mengaku sakit”. Sembari menuju ke dapur untuk mengolah ikan sidat tersebut.

Nyoman Jater pun mengambil pisau dan memotong-motong ikat sidat tersebut. Mendengar suara berisik, Ni Blenjo bangun dari tempat tidurnya dan mengintip suaminya. Melihat suaminya dari lubang dinding dapurnya Ni Blenjo bergumam “Mimih, tugel-tugel e be ane lantang totonan”. Artinya “Ya ampun, ikan yang panjang itu dipotong-potong”. Setelah melihat cara suaminya mengolah ikan, Ni Blenjo kembali ke tempat tidurnya sambil menarik selimutnya.

Beberapa saat kemudian Ni Blenjo mencium aroma segar yang begitu gurih yang membuat perutnya keroncongan kelaparan. Namun dia tetap kukuh ditempat tidurnya masih pura-pura sakit. Disisi lain Nyoman Jater sudah selesai memasak ikannya dan memanggil Ni Blenjo untuk makan. Ni Blenjo pun bangun dari tidurnya dengan lagak orang yang masih sakit sembari mengatakan “I cang medar bedik gen, nu seneb basange”. Artinya “aku makan sedikit saja, perut saya masih tidak enak”. Mereka pun makan bersama dan tanpa sadar Ni Blenjo makan begitu lahap sampai habis dua piring. Nyoman Jater sampai heran dan geleng-geleng kepala melihat tingkah polah istrinya yaitu Ni Blenjo.

Begitulah cerita pasangan suami istri antara Nyoman Jater dengan Ni Blenjo. Kisah ini mengajarkan kita janganlah selalu merasa paling pintar, karena berbagai masalah akan datang dikehidupan kita yang kadang kita tidak tahu untuk menyelesaikannya. Dan jangan juga merasa gengsi karena gengsi tidak akan menyelesaikan masalah apapun.

Kamis, 03 Februari 2022

Pan Balang Tamak

Alkisah disuatu daerah kerajaan, terdapat sebuah desa, bertempat tinggal seorang lelaki paruh baya bernama Pan Balang Tamak. Dia hidup berkecukupan bersama seorang istri dan anaknya. Di desa tersebut, dia dikenal banyak akal, cerdik dan terkesan licik. Tapi sifatnya itu bukannya tidak punya alasan, karena sering kali pengurus-pengurus desa tersebut membuat kebijakan-kebijakan peraturan yang tidak jelas dan terkesan ambigu untuk diikuti. Nah, dari situlah seringkali saat peraturan baru dibuat, Pan Balang Tamak selalu berusaha mengibulinya dengan cara-cara yang nyeleneh. Karena kenyelenehannya itu, para pengurus desa selalu membikin peraturan yang sebisa mungkin untuk merugikannya.

Diceritakan suatu saat, ketua desa akan merencanakan akan mengadakan kegiatan gotong royong. Ketua desa menyatakan kegiatan gotong royong akan dilakukan saat ayam berkokok atau turun dari kandangnya (ayam berkokok biasanya dipakai patokan saat matahari baru terbit). Jika tidak datang saat kegiatan atau terlambat datang, maka orang itu akan dikenakan denda uang. Mendengar arah-arahan seperti itu, Pan Balang Tamak merenung karena dia tidaklah punya ayam jantan yang notabene selalu berkokok dan turun kandang di pagi hari. Bagaimana dia bisa datang ke kegiatan tersebut.

Kemudian tibalah hari dimana warga akan melakukan kegiatan gotong royong. Di pagi itu tidaklah tampak kehadiran si Pan Balang Tamak. Para warga pun mulai membicarakannya dan melapor ke ketua desa. Ketua desa memutuskan akan mendenda si Pan Balang Tamak. Saat matahari sudah mulai terik dan kegiatan sudah mulai berakhir, tiba-tiba muncul si Pan Balang Tamak. Ketua desa langsung menghampirinya dan menyatakan Pan Balang Tamak akan kena denda, karena datang tidak sesuai waktu yang diarahkan. Tapi Pan Balang Tamak menyangkal tuntutan ketua desa. Dia beralasan ayamnya baru saja berkokok dan turun dari kandang. Ketua desa tidak percaya dengan alasannya. Ketua desa berpikir ayam apa hari sudah siang baru barkokok dan turun dari kandang. Karena ketua desa tidak percaya, Pan Balang Tamak mengajak ketua desa ke rumahnya untuk melihat ayamnya. Ternyata Pan Balang Tamak hanya punya ayam betina dan itu pun sedang mengeram. Itulah sebabnya dia terlambat datang karena ayam betina yang sedang mengeram memang turun dari kandang saat mulai siang. Melihat Pan Balang Tamak beralasan seperti itu, ketua desa dan warga lainnya terdiam tidak bisa menuntut Pan Balang Tamak.

Suatu hari di pusat kerajaan, Sang Raja memerintahkan di semua desa agar melaksanakan kegiatan berburu. Setiap hasil buruan akan diserahkan ke kerajaan. Ketua desa segera mengumumkan pada satu hari semua warga desa agar ikut berburu dan diwajibkan membawa anjing untuk membantu menyasar hewan buruan. Bagi siapa yang tidak ikut dan tidak membawa anjing, maka akan dikenakan denda. Begitu arahan ketua desa kepada warganya. Pan Balang Tamak ikut menyaksikan arah-arahan tersebut dan kembali merenungkan dirinya. Dia tidaklah punya anjing pemburu. Di rumahnya dia cuma punya anak anjing kurus. Jangankan mengejar hewan buruan, berjalan pun anjingnya terasa sulit. 

Tibalah hari warga untuk berburu. Semua warga terlihat membawa anjing yang gagah-gagah dan galak. Kecuali si Pan Balang Tamak. Dia hanya membawa anak anjing kurus yang terlihat jarang makan. Warga yang lain pun menatap sinis si Pan Balang Tamak. Bahkan ada yang meledeknya agar anjing si Pan Balang Tamak agar dibawa pulang saja untuk tidur. Tak terkecuali ketua desa, dia juga ikut meledek si Pan Balang Tamak sambil geleng-geleng kepala. Pan Balang Tamak tidak mau kalah, dia membilang kalau anjingnya tidak bisa diremehkan. Para warga pun tertawa mendengar ocehannya. Sesampai di hutan para warga melepas anjing mereka agar segera melacak hewan buruan. Namun si Pan Balang Tamak bersembunyi di balik semak-semak bersama anjingnya. Sampai hari mulai siang namun satu hewan pun tidak didapat oleh para warga. Semua terlihat lesu karena kelelahan dan pulang dengan tangan kosong. Disitulah keluar akal dari si Pan Balang Tamak. Dia melempar anjingnya ke jurang yang penuh duri, seketika anjingnya mengerang kesakitan karena tergores oleh duri-duri. Disaat itu Pan Balang Tamak juga berteriak bahwa dia melihat babi hutan di arah jurang sambil nunjuk-nunjuk. Seketika warga gempar dan menuju kearah jurang. Saat melihat jurang para warga hanya melihat anjing si Pan Balang Tamak tersangkut sembari meringis kesakitan. Dan Pan Balang Tamak berteriak kepada warga agar melihat tekad dari anjingnya tersebut. Walaupun kecil dan kurus, dia membilang anjingnya langsung melompat ke jurang yang penuh duri karena melihat seekor babi hutan. Tapi karena tersangkut duri, babinya keburu lari. Mendengar hal seperti itu, semua warga beserta ketua desa terbengong melihat kelakuan Pan Balang Tamak. Lagi-lagi ketua desa beserta warga tidak bisa berkutik melihat kelakuan si Pan Balang Tamak.

Merasa terus menerus dikibuli oleh Pan Balang Tamak, ketua desa merencanakan sesuatu untuk menjebak Pan Balang Tamak. Ketua desa bersama rekan-rekannya merencanakan untuk membuat suatu kegiatan desa. Mereka merancang agar semua warga desa untuk berkebun dan hasil kebun akan disetor ke desa untuk pemasukan desa. Barang siapa yang tidak mengikuti aturan dan kedapatan mencuri hasil perkebunan untuk setoran ke desa, akan dikenakan denda. Begitu peraturan dari ketua desa karena menimang Pan Balang Tamak bukanlah seorang yang mahir dibidang perkebunan. Mendengar peraturan baru tersebut, Pan Balang Tamak kembali merenung sembari berpikir bagaimana cara mengakali aturan tersebut. 

Disuatu pagi tercetuslah ide dari si Pan Balang Tamak, di lahan kosong di depan rumahnya dia mulai menggemburkan tanah untuk bercocok tanam. Bukan umbi-umbian atau buah-buahan ditanam olehnya. Melain tanaman pulet-pulet (tanaman semak belukar yang buahnya gampang menempel dikain). Suatu pagi lewatlah salah satu anggota pengurus desa di depan rumah Pan Balang Tamak untuk memeriksa kebun si Pan Balang Tamak. Karena kebiasaan orang pada umumnya, pagi itu si pengurus desa tersebut kebelet untuk buang air besar. Melihat ada semak belukar, pengurus desa tersebut melompat kesana untuk membuang hajatnya. Karena cerdiknya si Pan Balang Tamak, tiba-tiba dia berteriak ada maling, bahwa ada yang mencuri hasil perkebunannya. Seketika kagetlah si pengurus desa. Dan satu persatu warga desa datang beserta ketua desa. Ketua desa bertanya dimana malingnya. Pan Balang Tamak menunjuk pengurus desa tersebut bahwa dialah malingnya. Pengurus desa itu pun membela diri bahwa dirinya tidak ada maling sama sekali. Dia hanya buang air besar saja di semak-semak itu. Pan Balang Tamak makin ngotot, dia membilang bahwa semak-semak itulah kebunnya. Dan bukti dari bahwa malingnya adalah si pengurus desa, dipakaian pengurus desa tersebut banyak menempel buah dari tanaman semak-semak/pulet-pulet tersebut. Dia juga membilang bahwa pengurus desa tersebut haruslah didenda sesuai aturan. Mendengar penjelasan si Pan Balang Tamak seperti itu, lagi-lagi Ketua Desa dan warga dibuat geleng-geleng kepala tanpa bisa menyangkal kata-kata dari si Pan Balang Tamak. Dan si pengurus desa tersebut akhirnya dikenakan denda sesuai peraturan yang diarahkan sebelumnya.

Ketua desa dibuat pusing tujuh keliling oleh tingkah polah si Pan Balang Tamak. Peraturan apapun dibuatnya, tidak pernah bisa menjebak tingkah polah si Pan Balang Tamak. Dan ketua desa pun akan mengajak semua warga desa sangkep (rapat desa) tanpa terkecuali si Pan Balang Tamak untuk membahas peraturan-peraturan desa. Mendengar akan ada sangkep, Pan Balang Tamak mulai berpikir lagi bagaimana cara dia untuk menjahili para pengurus desa lagi. Saat dia ke dapur, dilihatlah istrinya sedang membuat jaje iwel (jajanan khas bali dari tepung dan berwarna hitam kecoklatan). Terbesitlah suatu ide dipikiran si Pan Balang Tamak.

Pagi-pagi buta sebelum sangkep dimulai. Pan Balang Tamak menuju ke Balai Desa tempat diadakannya sangkep/rapat. Dia membersihkan sudut-sudut lantai balai desa tersebut. Di sudut-sudut lantai tersebut ditaruh olehnya jajanan iwel yang dibuat oleh istrinya agar dikira kotoran anjing oleh warga. Tidak lupa dia memercikkan sedikit air diatas jajan iwel tersebut agar terlihat lebih mirip seperti kotorannya anjing.

Tibalah waktu untuk para warga sangkep/rapat. Sebelum rapat dimulai warga desa diarahkan untuk bersih-bersih dahulu agar balai desa bersih. Terlihatlah disana ada beberapa jumputan kotoran anjing di sudut-sudut lantai. Pan Balang Tamak pun memulai aksinya. Dia menantang bagi siapa pun yang berani memakan kotoran anjing itu, dia akan membayarnya dengan sejumlah uang yang besar. Ketua desa kembali dibuat kesal oleh kata-kata si Pan Balang Tamak. Ketua desa mengatakan orang mana yang mau memakan kotoran anjing, orang gila pun tidak akan mau. Pan Balang Tamak kembali menantang, jika kalau dirinya lah yang berani memakan kotoran itu, dia juga meminta agar dibayar dengan mahal oleh ketua desa jika berhasil memakan semua kotoran tersebut. Ketua desa mengernyit dan menerima tantangan si Pan Balang Tamak karena menilai hal itu mustahil. Dengan penuh jiwa kemenangan, Pan Balang Tamak pun melahap sampai habis jajan iwel tersebut yang menyerupai kotoran anjing. Ketua desa dan para warga terbengong melihat tingkah laku Pan Balang Tamak yang begitu lahap menelan kotoran anjing. Sembari merogoh uang untuk membayar kekalahan dari tantangan si Pan Balang Tamak, ketua desa juga kembali diperdaya oleh tipu dayanya.

Terus menerus diperdaya oleh Pan Balang Tamak, ketua dan para pengurus desa melakukan pertemuan dengan Sang Raja. Mereka mengadukan apa-apa yang telah dilakukan Pan Balang Tamak di desanya. Sang Raja pun membilang bahwa Pan Balang Tamak sudah tidak layak lagi untuk hidup di wilayah kerajaannya. Sang Raja memanggil dukun kerajaan untuk meminta cetik (racun ilmu hitam) yang paling mematikan untuk diberikan ke Pan Balang Tamak. 

Namun hal tersebut terdengar sampai ke telinga si Pan Balang Tamak. Merasa dirinya sudah tidak mungkin lagi bisa bertahan hidup, dia pun menitipkan pesan ke istrinya. Dia menyuruh seandainya dia nanti mati, mayatnya dia agar ditaruh di balai dangin (balai tempat upacara agama). Mayatnya dia suruh untuk dipakaikan pakaian serba putih dan rambut dibiarkan teruai. Di langit-langit balai, dia suruh istrinya untuk menaruh sarang lebah miliknya. Pan Balang Tamak juga menyuruh istrinya setelah senja saat itu tiba, mayatnya agar ditaruh didalam peti yang ada di balai daje (balai utama). Begitu pesan si Pan Balang Tamak kepada istrinya karena sudah merasa dirinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk hidup menimang murka sudah Sang Raja.

Singkat cerita Pan Balang Tamak akhirnya mati karena telah dicetik atau diracun oleh para pengurus desa atas permintaan sang raja. Istrinya pun melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Pan Balang Tamak sebelumnya.




Ketua desa yang penasaran akan hasil dari racun tersebut mengutus salah satu pengurus desa agar mengintai ke rumah si Pan Balang Tamak. Alangkah kagetnya si pengurus desa tersebut melihat si Pan Balang Tamak duduk bertapa di Balai Dangin sambil melafalkan mantra. Pan Balang Tamak terlihat seperti seorang pendeta suci yang sedang bertapa dengan memakai pakaian serba putih dan rambutnya teruai. Si pengurus desa tersebut tidak sadar bahwa yang dilihatnya adalah mayat si Pan Balang Tamak. Sedangkan mantra yang terdengar adalah bunyi dari kawanan lebah yang telah ditaruh berserta sarangnya di langit-langit balai tersebut. Si pengurus desa segera melapor ke ketua desa bahwa Pan Balang Tamak masih hidup, bahkan menjadi sesosok orang suci. Ketua desa yang begitu saja percaya kepada anak buahnya itu pun segera menemui Sang Raja karena racun yang diberikannya tidak mempan. Sang Raja yang merasa kecewa itu pun langsung mencicipi racun tersebut untuk mengujinya dan seketika Sang Raja langsung meninggal saat itu juga.

Malam mulai tiba saat suasana menjadi mencekam karena kematian Sang Raja. Melihat situasi yang lagi kacau, ada dua orang maling yang memanfaatkan keadaan. Mereka beraksi dimalam itu dan memasuki sebuah rumah untuk dijarah. Kawanan maling itu langsung masuk ke balai daje (balai utama) karena di balai tersebutlah biasanya penghuni rumah menyimpan harta-hartanya. Mereka menemukan sebuah peti. Mereka pun kegirangan karena peti sebesar itu pasti menyimpan banyak harta. Karena maruknya, mereka menggondol peti itu keluar dari pekarangan rumah tersebut. Karena situasi sedang berduka karena kematian Sang Raja, mereka pun membawa peti itu untuk masuk ke areal Pura (tempat suci Agama Hindu). Karena saat ada kematian, biasanya semua warga tidak boleh masuk ke areal pura kecuali Pemangku (orang suci). Kedua maling tersebut berencana membuka peti tersebut dan membagi hartanya. Saat peti dibuka, betapa kagetnya mereka ternyata isi dari peti tersebut adalah mayat dari si Pan Balang Tamak. Mereka pun lari tunggang langgang setelah membanting tutup dari peti tersebut sehingga peti tertutup lagi.

Keesokan harinya di pagi hari,  Pemangku (orang suci) dari pura tersebut seperti biasa melakukan aktifitasnya di pura itu. Betapa kagetnya beliau melihat sebuah peti besar di areal pura tersebut. Segera Pemangku tersebut mencari Ketua Desa melaporkan apa yang ditemukannya. Ketua desa dan warga pun menebak dan yakin bahwa peti itu adalah Paica Bhatara (rejeki dari Dewa). Ketua desa pun menyuruh Pemangku Pura tersebut untuk membuat sebuah ritual keagamaan untuk Paica tersebut. Dengan diakhiri dengan nunas tirta (meminum air suci dari ritual keagamaan) paica tersebut, akhirnya ketua desa memerintahkan agar peti itu segera dibuka. Agar semua warga tahu apa isi dari paica atau peti tersebut. Begitu peti itu dibuka, betapa kagetnya semua orang melihat sesosok mayat yang sudah mulai membusuk dan menyebarkan bau yang begitu menyengat. Semua warga lari kepanikan karena ternyata isi dari peti tersebut adalah mayat si Pan Balang Tamak. Semua warga kebingungan dan merasa marah tak terhingga karena baru saja mereka melakukan ritual dan menyembah sesosok mayat orang yang selama ini mereka benci yaitu si Pan Balang Tamak.

Begitulah cerita si Pan Balang Tamak yang penuh dengan tipu dayanya. Walaupun dia sudah meninggal, dia tetap bisa memperdaya semua orang.

Cerita ini pertama saya dengar dari almarhum bapak saya, dimana dulu sangat senang mendongengi saya sebelum tidur sama seperti almarhum kakek saya. Walapun si Pan Balang Tamak ini penuh dengan tipu daya dan terkesan suka seenaknya, tapi dia mempunyai alasan kenapa dia menjadi seperti itu. Dia seperti itu karena lingkungan yang memaksanya. Menjadi seorang warga yang hidup disebuah desa yang setiap waktu selalu mendengar arahan-arahan dari para pengurus desa yang  selalu ambigu dan terkesan dipaksakan. 

Demikian cerita dari Pan Balang Tamak, semoga terhibur dan bisa menggali makna dari dongeng adat Bali ini yang begitu melegenda.

Terima Kasih.

Sabtu, 22 Januari 2022

Si Ayam dan Si Itik

Diceritakan di sebuah hutan hiduplah seekor ayam dan itik. Mereka bersahabat dari kecil dan sudah seperti saudara. Apapun keperluannya, mereka selalu pergi berdua. 

Suatu  ketika saat menjelang senja, mereka sedang makan dan saling bercekerama. Saat matahari mulai tenggelam, si ayam mau kembali ke rumahnya. Dengan alasan saat senja, maka penglihatan matanya akan sedikit kabur. Namun si itik mencegahnya, dengan membilang nanti dia lah yang akan mengantarnya pulang. Karena si itik masih ingin bercengkerama sambil menghabiskan senja. Si ayam akhirnya membatalkan niatnya untuk pulang lebih awal dan memutuskan menemani sahabatnya itu. Si itik kemudian kepikiran kenapa kalau senja hari penglihatan si ayam menjadi kabur atau rabun. Si ayam menjawab bahwa mungkin itu memang kekurangan yang diberikan oleh sang Pencipta. Namun si ayam mengatakan selain kekurangan itu, disisi lain dia mempunyai kelebihan yaitu dia mempunyai selaput dikaki beserta tanduk dikaki. Dia mengatakan dia bisa berenang di air dengan selaput kakinya itu dan juga bisa melawan musuh dengan tanduk dikakinya. Si ayam juga mengatakan dia diberi satu kekurangan, namun dia juga punya dua kelebihan.

Si itik melihat ke sekeliling kakinya, dia tidaklah punya selaput dan tanduk seperti si ayam. Dia pun menggerutu kenapa sang Pencipta tidak memberikan kelebihan kepadanya. Si ayam pun tertawa, dan membilang walaupun si itik tidak mempunyai selaput dan tanduk dikaki, bukankah dia juga tidak mempunyai kekurangan seperti rabun seperti dirinya. Bahkan si itik mempunyai kelebihan pada paruhnya. Dimana paruhnya bisa membedakan makanan yang ada didalam lumpur. Mereka pun akhirnya tertawa dan si itik berlagak sombong kalau dirinya punya kelebihan tanpa kekurangan.

Hari sudah mulai malam, mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Seperti janjinya, si itik akhirnya mengantar si ayam sampai di rumahnya. Mereka pun akhirnya berpisah dan menuju rumah masing-masing. Di malam itu, si itik sampai di rumahnya sembari merenungkan obrolannya dengan si ayam tadi. Dia kembali berpikir, kenapa dia tidak punya selaput dan tanduk seperti di kaki si ayam. Bagaimana seandainya jika ada hewan lain yang memburunya, bagaimana dia bisa melawan hewan tanpa senjata seperti tanduk. Bagaimana kalau terjadi banjir, bagaimana dia bisa lolos dari banjir sedangkan dia tidak punya selaput kaki untuk berenang. Pikiran si itik menjadi kemana-mana malam itu.

Saat pagi tiba, mereka kembali bertemu. Mereka berencana mau ketepian sungai untuk mencari minum sambil membersihkan diri mereka. Sesampai di tepian sungai, tiba-tiba terdengar suara mendengus. Seketika si ayam dan si itik kaget dan melompat ke sungai karena ada seekor musang menerkam ke arah mereka. Si ayam berenang di sungai namun si itik terbawa arus sungai karena tidak bisa berenang. Si ayam pun segera berenang ke arah si itik untuk menyelamatkannya. Akhirnya si itik berhasil diselamatkan oleh si ayam. Mereka pun menepi ke sisi sungai seberang untuk menjauh dari kejaran si musang. Si ayam kemudian berusaha menakut-nakuti si musang dengan memamerkan tanduk dikakinya sembari mengambil ancang-ancang untuk segera melompat. Karena ancaman si ayam itu, akhirnya si musang kabur ke dalam hutan.

Si itik akhirnya merasa lega karena si musang sudah pergi. Sembari mengucapkan terima kasih kepada si ayam. Si ayam pun membalasnya sembari menenangkan sahabatnya itu. Si itik merenung seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki, pasti dia bisa melawan si musang itu. Si ayam melihat si itik termenung dan menerka pikiran sahabatnya itu. Si ayam membilang tidak usah berpikir seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki. Si ayam pun menjamin akan melindungi si itik apapun terjadi. Si itik tersenyum lega, namun si itik mempunyai niatan lagi. Si itik berniat meminjam selaput dan tanduk kaki si ayam. Agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai kedua benda tersebut. Si ayam merasa ragu akan permintaan si itik. Si itik pun merayu dan berjanji dia hanya meminjam sebentar dan akan langsung mengembalikan setelah dia merasakan bagaimana rasa mempunyai selaput dan tanduk kaki. Si ayam akhirnya mengikuti keinginan sahabatnya itu, tapi hanya meminjamkan selaput kaki saja, karena dia sulit melepaskan tanduk dikakinya itu.

Berhasillah si itik meminjam selaput kaki si ayam. Dengan kegirangan si itik melompat ke sungai dengan riang. Sambil bersorak-sorak dia makin kearah tengah bagian sungai. Si ayam pun memperingatinya agar segera mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik bilang lagi sebentar. Hari semakin sore si itik malah berenang makin jauh. Si ayam mengejarnya dari tepi sungai sembari menyuruh si itik mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik tetap cuek dan mengacuhkan si ayam. Disanalah si ayam mulai kesal dan geram. Si ayam mengancam jika si itik tidak mengembalikan selaput kakinya, maka si ayam akan mengutuk si itik agar keturunannya nanti akan selalu mengejar keturunan si itik untuk menagih selaput kaki miliknya. 

Nb. Nah, demikianlah dongeng antara si ayam dan si itik. Sampai saat ini pun jika kita melihat ayam bertemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar-ngejar si itik. Begitulah cocokologi yang tepat antara cerita diatas dengan fakta sebenarnya. Cerita ini hanya dongeng belaka, yang saya sempat karang waktu saya masih SD karena melihat setiap ada ayam ketemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar itik tersebut. 

Minggu, 16 Januari 2022

Padanda Baka

Diceritakan ada sebuah kolam di suatu desa. Kolam tersebut sangat luas dan asri. Dihuni beraneka ragam ikan dan sejenisnya. Kolam tersebut dikenal bernama kolam Kumudana.

Suatu ketika ada seekor burung bangau melintas terbang diatas kolam tersebut. Burung bangau itu memakai pakaian atau jubah seperti Pedanda (Pendeta dalam Ajaran Hindu). Sekilas dia melihat ada banyak ikan di kolam tersebut. Melihat ada ikan disana, si Bangau pun turun dan hinggap di sebuah batu. Seketika ikan-ikan kabur menyelam ke kedalaman karena takut dimangsa oleh bangau itu.

Si bangau kemudian berkata bahwa dia tidaklah ingin memangsa ikan-ikan tersebut. Dia bercerita dia bukanlah bangau biasa. Bisa dilihat dari jubah yang dipakainya. Dia mengatakan bahwa dia adalah seorang pendeta. Pendeta tidaklah akan memakan ikan karena itu bertentangan dengan ajarannya. Melihat si bangau berkata seperti itu, para ikan pun muncul ke permukaan kolam karena tertarik mendengar cerita si bangau.

Si bangau melanjutkan ceritanya, dia menjadi pendeta karena dulu dia pernah sakit. Setelah dia mencari penyebab penyakitnya, muncullah wahyu dari Tuhan bahwa sakitnya karena dia selalu memangsa ikan. Kemudian berhentilah dia memangsa ikan dan jadilah dia orang suci atau pendeta. Para ikan dan penghuni kolam lainnya terkesima dengan cerita si bangau. Dan percaya bahwa si bangau itu bukanlah seperti bangau lainnya. Setelah bercerita, pergilah si bangau dari kolam tersebut dan membilang ke para ikan-ikat tersebut dia mau menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan.

Keesokan harinya, si bangau kembali datang ke kolam tersebut dan para ikan pun menyambutnya berharap diceritakan ajaran-ajaran kebaikan. Namun wajah si bangau terlihat pucat. Si ikan pun menanyakan ada apa gerangan. Si bangau bercerita bahwa baru saja dia mendengar percakapan dua orang manusia. Katanya lagi seminggu, mereka akan menguras air kolam tersebut dan menangkap semua ikan-ikan yang ada. Para ikan pun kaget mendengar ucapan si bangau dan belum sepenuhnya percaya. Kemudian si bangau meyakinkan para ikan bahwa ajaran dan ucapan pendeta tidaklah boleh berbohong. Karena bertentangan dengan kebaikan. Para ikan pun percaya dan memohon jalan keluar agar mereka tetap hidup. Si bangau pun menenangkan para  ikan dan berjanji akan menolong mereka. Si bangau pun pergi sembari bilang akan datang lagi untuk membawa solusi.

Seiring berjalannya waktu, si bangau datang lagi ke kolam Kumudana. Dia disambut penuh harapan oleh para ikan. Si bangau berkata ada sebuah kolam yang begitu luas dan asri dekat pegunungan. Tidak kalah asri dengan kolam Kumudana. Dia berencana akan membawa ikan tersebut satu-persatu ke kolam tersebut. Para ikan pun merasa lega dan bersyukur. Si bangau berjanji mulai keesokan harinya dia akan memindahkan para ikan satu-persatu.

Tibalah hari dimana si bangau akan memindahkan ikan-ikan tersebut. Para ikan tidak sabar dan berebutan meminta paling pertama. Dan disela-sela itu, ada seekor kepiting juga meminta agar dipindahkan paling pertama. Si bangau meminta agar si kepiting agar diangkut paling terakhir saja. Si bangau beralasan bahwa si manusia pasti akan menangkap para ikan terlebih dahulu dan si kepiting juga masih bisa bersembunyi didalam tanah. Diangkutlah satu persatu ikan tersebut oleh si bangau dengan memakai paruhnya dan terbang menuju kolam yang baru.

Kemudian tibalah giliran si kepiting untuk diangkut. Seperti sebelumnya si bangau memakai paruhnya untuk membawa si kepiting. Namun si kepiting terus terlepas karena tubuhnya yang keras. Si bangau menyarankan agar si kepiting memeluk leher dirinya yang panjang saja agar tidak terjatuh. Si kepiting pun melingkarkan kedua capitnya keleher si Bangau. Kemudian terbanglah mereka menuju kolam yang dituju.

Diperjalanan, dari udara si kepiting iseng menoleh kebawah. Si kepiting kaget melihat banyak tulang ikan berserakan didaratan. Si kepiting mulai curiga akan tingkah laku si bangau. Dia curiga bahwa si bangau tidaklah memindahkan para ikan melainkan memangsanya. Berarti selama ini apa yang diceritakan si bangau tidaklah benar. Dia memakai pakaian pendeta hanyalah untuk menipu para ikan agar percaya bahwa dia adalah orang suci. Karena merasa kesal karena telah ditipu, si kepiting pun tiba-tiba mencapit leher si bangau dan menanyakan kemana ikan-ikan tersebut dibawa. Si bangau mengerang kesakitan sembari membilang bahwa para ikan telah sampai di kolam didekat pegunungan. Namun si kepiting tidak percaya dan mencapit lebih keras sembari bertanya kenapa dibawah banyak sekali tulang-tulang ikan. Si bangau kembali berkelit bahwa itu tulang-tulang ikan lain yang dimangsa oleh bangau lain. Si kepiting  tetap tidak percaya karena tulang-tulang tersebut terlihat masih baru seperti ikan yang baru saja dimakan. Si kepiting mencapit leher si bangau lebih keras dan menyuruhnya mendarat. Si bangau pun menurutinya sembari meringis kesakitan. Si kepiting meminta agar si bangau jujur saja daripada lehernya putus. Si bangau pun mengaku bahwa dia telah memangsa semua ikan dan kolam yang dijanjikannya hanya sebuah kebohongan. Dia pun mengaku dia bukanlah pendeta. Jubah yang dipakainya hanyalah kedok agar dia bisa dipercaya oleh siapapun. Si kepiting kemudian mencapit leher si bangau sampai putus karena merasa kesal. Si bangau pun akhirnya mati ditangan si kepiting.

Di Bali khususnya di Agama Hindu bangau tersebut disebut Padanda Baka. Bisa diartikan pendeta pembohong atau dusta. Ini sering diceritakan turun-temurun oleh para tetua di Bali kecucu-cucunya. Agar kita tidak mudah percaya kepada orang yang terlihat baik atau terlihat suci. Karena kadang-kadang pakaian bisa menipu kita. Dengan kedok yang terlihat suci, bisa saja dipakai untuk menipu dan mempermainkan orang. Begitulah kira-kira pelajaran yang bisa dipetik dari cerita dongeng diatas.

Salam Rahayu.

Nb. Referensi dari cerita kakek saya.

Sabtu, 08 Januari 2022

Belang Uyang

Diceritakan ada sebuah kerajaan yang maha besar di sebuah negeri. Sang Raja yang memimpin kerajaan tersebut dikenal bertangan besi atau kejam dikepemimpinannya. Rakyatnya cuma diperalat dengan menarik begitu banyak upeti disetiap usaha mereka. Banyak cara yang dilakukan untuk mengkudeta Sang Raja. Namun tidak pernah berhasil malah mereka dihukum mati bagi siapapun berani melawan Sang raja. Dibalik kekejamannya, Sang Raja memelihara seekor anjing. Konon katanya anjing inilah jadi jimat keberuntungan Sang Raja. Dimana anjing inilah yang selalu pertama mengendus jika Sang Raja dalam keadaan bahaya. Anjing ini diberi nama Si Belang Uyang.

Belang Uyang adalah anjing yang berbadan tinggi tegap, berwarna hitam dengan taring yang selalu keluar dari mulutnya. Air liurnya selalu menetes dari sela-sela taringnya. Siapa pun melihat anjing ini pasti seketika merasa ketakutan. Belang Uyang mempunyai ciri-ciri yang begitu khas. Yaitu warna belang putih di tubuhnya yang konon bisa berpindah-pindah posisinya. Dari sanalah namanya berasal, Belang yang mencirikan ada corak warna lain ditubuhnya, dan Uyang dalam Bahasa Bali berarti berpindah-pindah tempat.

Belang Uyang ini selalu berada disisi raja. Kemana pun raja berpergian dia selalu ikut seperti menteri-menteri raja lainnya. Disuatu hari raja ingin berburu ke sebuah hutan. Namun hutan tersebut dikenal sangat berbahaya. Konon katanya hutan tersebut dihuni oleh seekor harimau yang begitu ganas. Bahkan sering ada pemburu yang hilang di hutan tersebut yang katanya pasti dimakan oleh si harimau tersebut. Bahkan penduduk sekitar meyakini harimau itu adalah raja dari hutan tersebut. Para menteri raja sudah memperingatkan bahwa hutan tersebut sangat berbahaya. Namun raja malah merasa tertantang. Apalagi ada si Belang Uyang yang selalu ada disampingnya. Dimana raja selalu percaya kepada jimat keberuntungannya tersebut. Melihat raja terlalu percaya diri, ada seorang menteri memperingatkan sekali lagi karena takut akan keselamatan raja. Tiba-tiba si Belang Uyang mengeram bengis ke menteri itu seakan-akan menyuruh diam. Menteri pun ketakutan dan langsung terdiam.



Disuatu pagi berangkatlah raja beserta beberapa pasukan kerajaan dan tentu saja bersama si Belang Uyang juga. Sesampai di depan hutan mereka dihadang oleh sekawanan anjing liar. Seolah-olah kawanan anjing tersebut mencegah rombongan kerajaan untuk masuk hutan. Sang Raja menyuruh pasukannya untuk siaga kalau kawanan anjing tersebut menyerang. Semua pasukan mengarahkan senjatanya ke arah kawanan anjing liar tersebut. Begitu pun si Belang Uyang, sudah dari awal melompat dari kereta Sang Raja dan menyalak bengis kehadapan kawanan anjing tersebut. Begitu salah satu dari kawanan tersebut mencoba menerkam kesalah satu prajurit, seketika Belang Uyang menghadang dan membunuh anjing tersebut. Melihat salah satu kawannya terbunuh, semua kawanan anjing liar tersebut menyerang. Tombak dan panah pun dilempar dan ditembakkan ke arah kawanan anjing. Dilain sisi si Belang Uyang dengan brutal membantai kawanan anjing tersebut sehingga jumlah mereka berkurang drastis. Sisa kawanan anjing lainnya memilih kabur masuk ke dalam hutan. Melihat si Belang Uyang dengan gagahnya menghajar kawanan anjing itu, raja begitu bangga dan dengan gagah memerintahkan pasukannya untuk masuk kedalam hutan untuk memburu hewan seganas apapun di hutan itu.

Sesampai di dalam hutan, raja mengambil busur dan anak panah perlengkapan berburunya. Dan memerintahkan si Belang Uyang untuk mengendus dan melacak hewan buruan. Dari kejauhan terdengarlah auman harimau yang membuat seluruh pasukan kerajaan kaget dan merinding. Seketika si Belang Uyang menyalak dan melompat kearah  semak-semak. Disanalah tampak keluar seekor harimau yang besar dengan mulut menganga yang siap menerkam apa saja. Terlihat harimau tersebut bersama beberapa kawanan anjing liar. Ternyata kawanan anjing tersebut adalah yang menyerang rombongan kerajaan di pinggiran hutan sebelumnya. Raja menerka kawanan anjing tersebutlah yang melapor ke si harimau bahwa akan ada rombongan yang akan masuk hutan. Karena mereka kalah maka mereka mengadu ke si harimau tersebut. Raja juga berpikir ternyata mitos ada seekor harimau yang menguasai hutan tersebut ternyata benar. Raja pun sekarang makin tertantang dengan adanya harimau dihadapannya dan mengarahkan anak panahnya ke arahnya. Begitu Sang Raja melepas anak panahnya, panah tersebut menancap tepat dileher si harimau. Tapi harimau itu tetap berdiri dengan tegap dan mencabut anak panah tersebut dengan cakarnya. Merasa terancam, harimau itu melompat ke arah kereta Sang Raja. Pasukan kerajaan berusaha menghalangi namun tidak bisa melawan keganasan harimau tersebut. Raja melihat beberapa pasukannya terluka parah dan karena merasa ketakutan, raja pun bersiul untuk memanggil si Belang Uyang yang sedang sibuk melawan kawanan anjing liar. Begitu dia melihat celah, si Belang Uyang berlari dan melompat menerkam si harimau. Si harimau meladeni dengan membalas mencakar si Belang Uyang. Terjadilah pertarungan yang begitu sengit antara si Belang Uyang dengan si Harimau.

Dikejauhan diantara semak-semak terlintas ada seekor hewan yang mengintai atau mengintip. Seakan-akan mengintai pertarungan yang sedang terjadi. Sang Raja melihat gerak-gerik hewan tersebut dan mengambil busur lalu melepaskan anak panahnya ke arah hewan tersebut. Kemudian keluarlah hewan tersebut dari persembunyiannya yang ternyata hewan tersebut adalah seekor trenggiling. Sang Raja kecewa karena dikira hewan tersebut adalah seekor hewan yang lebih besar yang setidaknya bisa dibawa pulang dagingnya. Melihat hewan tersebut hanyalah seekor trenggiling, raja membiarkan dan melepasnya karena hewan tersebut tidak ada istimewanya menurutnya.

Disisi lain pertarungan si Belang Uyang dengan si harimau masih berlangsung. Mereka sama imbang dan tubuh mereka sudah banyak luka. Namun si harimau mulai kehabisan tenaga dan berbanding terbalik dengan si Belang Uyang yang masih enerjik dan terlihat masih kokoh untuk berdiri. Melihat si harimau sudah terlihat lemah, raja mengangkat busurnya dan melepaskan anak panahnya tepat ke jantung si harimau. Harimau roboh dan masih berusaha untuk bangun. Si Belang Uyang mencakar leher si harimau dan membuat si harimau tidak bisa bangun lagi. Si harimau pun mati dan Sang Raja bersorak gembira bersama pasukannya. Raja membawa mayat harimau tersebut ke istana kerajaan dan memamerkan ke rakyatnya. Raja berkata hutan yang selama ini dikenal angker dan ditakuti masyarakat telah ditaklukkannya. Dia juga memuji setinggi langit si Belang Uyang yang berperan besar atas kejadian itu. Untuk merayakan kejadian itu, raja mengumumkan untuk merayakan kejadian itu, dia akan mengadakan pesta besar-besaran dan akan mengundang tamu-tamu besar.

Didalam hutan terlihat kawanan anjing liar yang masih tersisa. Mereka sangat sedih kehilangan si harimau yang selama ini melindungi mereka dari para pemburu. Hewan-hewan lainnya menghampiri mereka dan terlihat juga begitu sedih. Karena hutan tempat tinggal mereka selama ini yang aman, sekarang terasa tidak aman lagi setelah kepergian si harimau. Kemudian muncullah si trenggiling yang sempat terlihat saat pertempuran. Trenggiling tersebut bernama “I Klesih”. I Klesih berusaha menenangkan hewan-hewan lainnya. Dia bercerita kalau dia terus memantau saat pertarungan si Belang Uyang dan harimau terjadi. Dia melihat sesuatu yang janggal. Dia melihat saat si harimau mencakar si Belang Uyang, si Belang Uyang seolah-olah tidak merasa kesakitan. Padahal sudah jelas si harimau sempat mencakar dan merobek leher si Belang Uyang. Tapi lehernya terlihat sembuh sendiri. Dia juga melihat kearah manapun di harimau mencakar, belangnya si Belang Uyang terus berpindah-pindah menghindari cakaran si Harimau. I Klesih menerka bahwa belangnya itulah pusat kekuatan sekaligus kelemahan si Belang Uyang. Seakan-akan si Belang Uyang bisa memindahkan belangnya sesuai keinginannya. Disana i Klesih menceritakan dan berniat balas dendam ke si Belang Uyang. Namun hewan lainnya mengabaikannya karena melihat mata si Belang Uyang saja mereka sudah merinding. Apalagi i Klesih hewan yang kecil. Mana bisa dia balas dendam, begitu pikir mereka.

Mendengar hewan-hewan lainnya seperti itu, i Klesih memutuskan untuk pergi sendiri ke istana kerajaan untuk membalas kematian si harimau. Sesampai di istana, Klesih mencari jalan pintas untuk sampai di ruangan Sang Raja dimana si Belang Uyang juga pasti disana. Dan akhirnya i Klesih sampai diatas langit-langit kerajaan untuk memantau keadaan. Sayangnya i Klesih datang pada waktu yang kurang tepat, dia tidak tahu hari itu sedang ada pesta besar-besaran perayaan Sang Raja yang sukses membunuh si harimau yang menguasai hutan yang konon ditakuti oleh masyarakat. I Klesih pun harus menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Dia tetap diam disela langit-langit ruangan itu. Namun sayangnya, si Belang Uyang menyadari sesuatu. Dia mencium bau yang aneh dari langit-langit ruangan itu. Dia menyalak dan menggonggong kearah i Klesih bersembunyi. Raja pun kaget mendengar gonggongan si Belang Uyang. Raja menoleh keatas kearah penglihatan si Belang Uyang. Namun  Raja tidak melihat apapun, mungkin cuma cicak atau tikus, pikir Raja. Karena pesan si Belang Uyang tidak direspon oleh Raja, si Belang Uyang emosi dan makin menyalak ke arah langit-langit memberi tanda ke Raja. Sang Raja kembali menoleh keatas dan tidak terlihat apapun. Karena makin emosi, belang si Belang Uyang pun berpindah ke kepalanya tanpa dia sadar. Karena emosi, belangnya tersebut tepat berada di dahinya. Melihat hal tersebut i Klesih mendapatkan ide. Dia keluar dari persembunyiannya dan merayap disela langit-langit menuju langit-langit ruangan yang tepat berada di atas meja hidangan makanan, tempat para tamu undangan kerajaan menyantap makanannya. Si Belang Uyang pun mengikuti arah kemana i Klesih berlari. Dan sampailah i Klesih berada di langit-langit ruangan tepat diatas meja makan, seketika si Belang Uyang naik ke meja makan tepat saat tamu sedang menikmati hidangan. Para tamu pun seketika kaget sembari mengumpat ke anjing tersebut. Sang Raja merasa malu dan berusaha mengusir si Belang Uyang dari atas meja. Suasana semakin kacau setelah si Belang Uyang melompat-lompat diatas meja melihat ada seekor binatang di langit-langit ruangan. Raja mulai gusar dan marah melihat si Belang Uyang tidak menghiraukan perintahnya. Seketika Raja mengambil sebuah tombak dari prajurit disampingnya dan memukul kepala si Belang Uyang. Si Belang Uyang pun sempoyongan dan terjatuh dari atas meja. Sang Raja merasa kaget dengan tindakannya dan meratapi si Belang Uyang yang lemas lunglai terkapar dilantai. Diangkatlah kepala si Belang Uyang oleh Sang Raja dan melihat bekas pukulannya tepat di belangnya pusat kekuatan dan sekaligus kelemahan si Belang Uyang. Perlahan-lahan nafas si Belang Uyang mulai tersendat dan akhirnya si Belang Uyang mati ditangan majikannya sendiri.

Sambil menyesali perbuatannya, Sang Raja menengok keatas, mencari sebab apa sebenarnya yang diincar oleh si Belang Uyang. Sang Raja melihat seekor trenggiling nyempil diantara langit-langit ruangan. Raja tersadar trenggiling tersebut adalah trenggiling yang sempat dilihat dan hampir dibunuhnya saat di hutan. Seketika dia tersadar akan dosa-dosa yang selama ini diperbuatnya. Tersadar akan kekejaman-kekejaman yang dilakukannya bersama si Belang Uyang. Dimana hewan kesayangannya mati ditangannya sendiri. Raja pun meminta maaf kepada rakyatnya dan juga berjanji tidak akan mengganggu kehidupan hutan lagi.

Disini kita belajar, sekuat apapun kita dan sebesar apapun kekuasaan kita, sudah pasti ada kelemahannya atau sudah pasti ada akhirnya. Walaupun akhir dari semua itu datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangka. Maka dari itu, sekuat apapun kita, kita harus bisa rendah diri dan teruslah berbuat baik kepada siapa atau apapun di dunia ini.

Rahayu

nb. Referensi dari cerita kakek saya.

 

TAMAT

 

Sabtu, 01 Januari 2022

Lubdaka

 

Alkisah diceritakan ada seorang pemburu dari sebuah desa terpencil bernama Si Lubdaka. Dia adalah pemburu yang begitu terkenal di desanya. Tidak ada pekerjaan lain darinya selain memburu di hutan. Hasil buruannya dijual dan dimasak untuk keluarganya sehari-hari.

Sebagai pemburu, dia dikenal pemburu yang sangat kejam. Bukan hanya hewan dewasa saja diburunya, melainkan juga hewan yang masih kecil pun diburunya jika memang ada dihadapannya.

Suatu hari dia merasa badannya sangat lelah. Dalam benaknya dia ingin sekali istirahat untuk satu hari saja untuk tidak berburu. Namun kebutuhan dapurnya sudah habis. Sehingga dia harus berburu saat itu juga.


Dia pun segera bergegas menyiapkan alat-alatnya dan langsung menuju ke hutan. Namun hari itu terasa sangat aneh. Dari pagi sampai matahari mau terbenam, tidak satu pun hewan buruan didapatnya. Jangankan kijang, nyamuk pun terasa lenyap dari hutan itu. Dia tidak pantang menyerah. Walaupun hari sudah mulai gelap, dia makin masuk ke hutan untuk mencari hewan buruan. Namun apa daya, dia malah tersesat dan bingung untuk mencari jalan keluar. Hari sudah gelap dan bulan pun tak tampak. Sehingga dia tidak bisa melihat situasi sekitar.

Lubdaka berpikir, kenapa malam ini begitu gelap, jangankan bulan, bintang pun tak tampak di langit malam itu. Tanpa dia sadari, malam itu adalah malam bulan mati sasih kepitu atau bulan mati di bulan ketujuh dalam Agama Hindu yang disebut dengan Hari Malam Siwalatri. Malam dimana Dewa Siwa sedang bersemedi. Lubdaka tidak tahu bahwa malam itu adalah malam Siwalatri, karena kesehariannya dia memang hanya berburu dan tidak pernah peduli dengan ajaran-ajaran agamanya.

Malam Siwalatri dimana malam itu Dewa Siwa sedang bersemedi, barang siapa yang malam itu bisa bersemedi atau minimal bisa merenungkan dosa-dosanya dimasa lalu dan kedepan bisa memperbaiki sifatnya, maka jika ajalnya tiba, maka rohnya akan mendapat tempat istimewa disisi Dewa Siwa. Begitulah ajaran yang ada didalam Agama Hindu.

Malam semakin larut, si Lubdaka masih bingung untuk mencari jalan pulang. Tiba-tiba terdengarlah suara auman harimau yang begitu menakutkan. Sekita Lubdaka pun lari tunggang langgang tanpa arah tujuan. Tiba-tiba dia tersandung sebuah batu yang mengakibatkan dirinya jatuh. “Aduhhhh” begitu terikannya. Mengingat ada harimau disekitarnya, diapun menahan rasa sakitnya dan sampai dia sadar dia mendekap sebuah pohon yang lumayan besar. Naiklah dia ke pohon itu untuk menghindar dari si harimau. Sesampai diatas dia melihat sekitar. Suasananya benar-benar gelap gulita. Dia berharap bulan segera menampakkan dirinya. Tanpa tahu bahwa malam itu adalah hari bulan mati.

Diatas pohon dia mengelus-ngelus kakinya yang sakit karena tersandung batu tadi. Sambil menatap langit, badannya mulai terasa lelah dan matanya mulai mengantuk. Namun dia sadar seandainya dia tidur diatas pohon tersebut, maka pasti dia akan jatuh. Dia berusaha menahan kantuknya. Namun dia tidak bisa dan hampir terjatuh. Untuk menahan kantuknya dia pun memetik satu cabang pohon tersebut dan memetik satu persatu daunnya agar dia mengalihkan rasa kantuknya. Seiring makin larutnya malam, sambil memetik satu persatu daun dari pohon tersebut, terlintas dipikirannya semua perbuatannya dimasa lalu. Dia merenung berapa banyak hewan yang telah diburunya. Dia teringat dia pernah membunuh seekor anak kijang yang baru berumur beberapa minggu. Tiba-tiba air matanya menetes menyesali perbuatannya dimasa lalu. Dan dia merasa ingin berhenti menjadi pemburu dan mencari pekerjaan yang lain.

Tidak terasa matahari terbit dari ufuk timur. Si Lubdaka merasa lega dan langsung turun dari pohon untuk pulang ke rumah. Sesampai dibawah dia baru sadar ternyata dia bermalam di sebuah pohon bila. Dimana pohon bila ini termasuk pohon yang disucikan oleh umat Hindu. Dan dia menatap kebawah dan melihat sebuat batu berbentuk lonjong yang membuat dirinya terjatuh tadi malam. Ternyata batu tersebut adalah lingga Yoni atau batu berbentuk lonjong untuk pemujaan Dewa Siwa. Disitulah dia tersadar dan menangis sejadi-jadinya karena mengingat dirinya tidak taat akan agamanya. Dia merasa dilindungi oleh Dewa Siwa tadi malam dari Harimau yang sempat membuatnya ketakutan.

Setelah kejadian itu si Lubdaka benar-benar merubah kesehariannya. Dia memilih bertani dan berhenti menjadi pemburu. Dia pun lebih taat beragama dan sifatnya pun menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Saat ajalnya tiba, atma atau roh si Lubdaka dijemput dan dibawa ke neraka oleh para Cikrabala (pasukan yang menjemput atma /roh orang yang meninggal) untuk bertemu Dewa Yama (Dewa Kematian). Disana dia diseret ke neraka karena perbuatannya semasa hidupnya. Saat Dewa Yama akan mengirim si Lubdaka ke lembah neraka, datanglah Dewa Siwa mencegat Dewa Yama. Dewa Siwa menjelaskan bahwa si Lubdaka tidak boleh dibawa ke neraka. Disana terjadi perdebatan antara Dewa Yama dan Dewa Siwa. Namun akhirnya Dewa Yama melunak karena Dewa Siwa menjelaskan bahwa si Lubdaka pernah melakukan semedi atau perenungan saat malam Bulan Mati Ketujuh atau disebut malam Siwalatri. Dan setelah malam itu si Lubdaka pun telah merubah hidupnya untuk menjadi lebih baik. Disalah akhirnya Dewa Siwa memenangkan perdebatan dan diajaklah si Lubdaka ke Siwa Loka (alam Dewa Siwa).

Sekian ceritanya teman-teman, jika ada kesalahan mohon dimaafkan. Karena cerita ini saya dapat dari almarhum kakek saya yang sering mendongengkan saya dulu saat sebelum tidur. Banyak makna sebenarnya dari cerita ini. Silahkan ditanggapi dari hati masing-masing dan semoga bermanfaat di malam Siwalatri Hari ini  yang kebetulan juga awal tahun 2022. Sekali lagi jika ada kesalahan mohon dimaafkan.

Rahayu.

nb. Referensi dari cerita kakek saya.