Senin, 21 Februari 2022

Gerhana dan Rahu

Gerhana adalah fenomena alam dimana matahari dan bulan terlihat sebagian atau tidak sempurna dari bumi. Hal ini disebabkan karena posisi matahari, bumi dan bulan berada digaris yang sejajar. Gerhana ada dua jenis, yaitu gerhana matahari dan gerhana bulan. Gerhana matahari terjadi saat matahari tertutupi oleh bulan sehingga matahari terlihat tidak sempurna dari bumi. Sedangkan gerhana bulan terjadi ketika cahaya bulan tertutupi oleh bayangan bumi sehingga bulan terlihat tidak sempurna dari bumi. Fenomena gerhana biasanya terjadi dalam waktu yang singkat. Biasanya terjadi dalam waktu satu jam atau lebih. Bahkan gerhana matahari terjadi jauh lebih singkat yaitu biasanya terjadi hanya beberapa menit dalam satu kali kejadian.

Namun apa hubungannya dengan Rahu? Dan apa itu Rahu? Jika kita tanyakan ke para tetua kita, Rahu adalah seorang Asura. Konon katanya dialah yang memakan sang matahari dan bulan saat gerhana. Atau bisa dibilang Rahu adalah gerhana itu sendiri. Tentu ini tidak lepas dari cerita-cerita pewayangan atau mitologi jaman dulu. 

Diceritakan saat jaman Satya Yuga, para dewa dan asura berunding untuk mendapatkan Tirta Amerta, yaitu air suci keabadian. Atas petunjuk dari Dewa Wisnu, para dewa dan asura pun menandatangi lautan susu untuk mencari Tirta Amerta yang berada di dasar lautan. Untuk mengeluarkan Tirta Amerta dari dasar lautan yang dalam, para dewa dan asura memutuskan untuk mengaduk lautan tersebut. Untuk mengaduk lautan yang luas, mereka menggunakan Gunung Mandara Giri sebagai tuas dan Sang Naga Basuki sebagai tali untuk memutar tuas. Namun hal tersebut masih gagal karena Gunung Mandara Giri malah tenggelam ke lautan yang dalam. Maka saat itulah  Dewa Wisnu berinkarnasi menjadi Kurma Awatara (Kurma = kura-kura) untuk menjadi alas dari gunung. Kurma Awatara sendiri adalah awatara kedua dari Dewa Wisnu setelah Matsya Awatara. 

Saat pemutaran Gunung Mandara Giri, Sang Naga Basuki mengeluarkan racun atau bisa yang membuat lautan menjadi tercemar dan membunuh makhluk sekitarnya. Saat itu Dewa Siwa mengambil keputusan untuk meminum racun itu sendiri. Saat racun melewati tenggorokan, sakti beliau yaitu Dewi Parwati menahan racun tersebut ditenggorakan Dewa Siwa agar tidak menyebar ke tubuh Dewa Siwa. Karena menahan racun ditenggorakan, leher Dewa Siwa menjadi biru dan sejak itu beliau mendapat julukan Sang Nilakantha yang berarti leher biru. 

Pengadukan laut masih berlanjut dan akhirnya keluarlah satu persatu harta karun dari dasar lautan. Beberapa harta karun keluar dan diambil oleh para pihak dewa. Karena merasa para dewa telah mengambil semuanya, maka para asura pun meminta haknya agar harta karun terakhir yakni Tirta Amerta agar menjadi milik mereka. Dewa Wisnu yang sudah kembali menjadi wujud asalnya pun menyetujui beserta Dewa Siwa. Akhirnya Tirta Amerta keluar dan diambil oleh pihak Asura. Para Dewa yang melihat kejadian itu merasa tidak terima, karena harta karun yang berharga harusnya menjadi hak para dewa. Karena para asura juga lebih sering membikin keonaran daripada kebaikan. Dewa Wisnu mencoba menenangkan para dewa dan membiarkan para asura untuk memiliki Tirta Amerta tersebut. Saat yang tak terduga, Dewa Wisnu merubah diri menjadi wanita yang begitu cantik. Dewa Siwa yang mengerti akan rencana Dewa Wisnu tersebut memberi nama beliau Mohini. Mohini mendekati para asura yang sedang merayakan kemenangan mendapatkan Tirta Amerta. Para asura mulai tergoda dengan kecantikan Mohini. Satu persatu dari mereka merayu Mohini. Mohini yang cantik tersebut mulai menggoda para asura agar Tirta Amerta tersebut biar dibawa olehnya agar tidak terjatuh karena para asura sudak mulai mabuk-mabukan saat tahu diri mereka menang. Saat para asura lengah, Mohini melarikan diri ke kahyangan dengan membawa Tirta Amerta. Salah satu asura yang bernama Rahu mengetahui kejadian tersebut mengikuti Mohini dengan diam-diam. Rahu merubah dirinya menjadi seorang dewa agar bisa menyusup ke kahyangan. Saat Mohini sampai di kahyangan dia kembali ke wujud semula menjadi Dewa Wisnu. Saat itu pula Tirta Amerta dibagi kesemua  dewa. Saat hampir semua dewa mendapat bagian, tibalah saat giliran Rahu untuk mendapatkan Tirta Amerta. Rahu yang berwujud dewa mulai dicurigai oleh Dewa Surya (matahari) dan Dewa Candra (bulan). Saat Rahu meminum Tirta Amerta, Dewa Surya dan Dewa Candra berteriak bahwa Rahu bukanlah dewa, melainkan asura yang sedang menyamar. Melihat kejadian itu, Dewa Wisnu mengeluarkan senjata cakranya dan memotong leher Rahu yang sedang berusaha menenggak Tirta Amerta. Saat kepalanya terpotong, tubuh Rahu tewas sedangkan kepalanya masih hidup karena telah meminum Tirta Amerta namun belum sampai ketubuhnya. Saat itulah Rahu mengeluarkan amarahnya dan mengutuk Dewa Surya dan Dewa Candra jika nanti pada saat-saat tertentu Rahu akan mendatanginya dan akan menelan mereka. Sejak saat itulah Dewa Surya dan Dewa Candra pada saat-saat tertentu akan ditelan oleh Rahu, namun akan keluar lagi karena Rahu tidak mempunyai tubuh. 
Seperti itulah cerita gerhana didalam mitologi atau cerita-cerita pewayangan. Dimana Rahu atau gerhana akan menelan Dewa Surya atau matahari begitu pula Dewa Candra atau bulan saat-saat waktu tertentu. Pada jaman dahulu, jika terjadi fenomena gerhana, orang-orang akan membunyikan atau menumbuk-numbuk alu agar Sang Kala Rahu segera pergi agar Sang Matahari atau Bulan tidak ditelan. 

Jumat, 11 Februari 2022

Narasimha Awatara

Narasimha Awatara adalah inkarnasi atau penjelmaan dari Dewa Wisnu kedunia. Beliau adalah awatara keempat yang turun kedunia dari sepuluh awatara (Dasa Awatara). Sebelumnya ada Waraha Awatara yang turun kedunia untuk menyelamatkan dunia yang tenggelam di lautan kosmik oleh raksasa bernama Hiranyaksa. Dia adalah adik dari Hiranyakasipu yang akan menjadi musuh dari Narasimha Awatara. 

Hiranyakasipu adalah seorang raksasa yang memimpin disebuah kerajaan. Dia sangat membenci apapun yang berkaitan dengan Dewa Wisnu. Karena disebabkan adiknya yang bernama Hiranyaksa telah dibunuh oleh Dewa Wisnu yang berwujudkan Waraha Awatara saat itu. Karena dendamnya itu, suatu hari dia memutuskan untuk melakukan tapa brata untuk memohon kekuatan. Dia memfokuskan pikirannya ke Dewa Brahma untuk memohon kekuatan.

Di lain sisi istri dari Hiranyakasipu yang bernama Lilawati tidak tahan dengan tingkah suaminya tersebut. Karena terlalu membenci Dewa Wisnu. Penderitaan Lilawati dilihat oleh Dewa Narada dan segera beliau membujuk Lilawati untuk meninggalkan kerajaan agar tidak selalu menjadi pelampiasan kemarahan dari Hiranyakasipu. Dewa Narada pun membawa Lilawati pergi dari kerajaan karena melihat Lilawati saat itu juga sedang mengandung. Dewa Narada menekankan agar Lilawati untuk selalu memuja Dewa Wisnu karena beliau adalah Dewa pelindung dunia. Agar dia selalu mendapat perlindungan dari Dewa Wisnu. Kelak saat anaknya lahir juga selalu mendapat perlindungan-Nya. 

Tahun ke tahun silih berganti. Karena tekad dari Hiranyakasipu begitu kuat, muncullah Dewa Brahma dihadapannya. Dewa Brahma menyapa dan meminta Hiranyakasipu untuk menghentikan tapa bratanya karena Dewa Brahma telah luluh akan tekadnya itu. Dewa Brahma pun meminta Hiranyakasipu untuk mengutarakan permohonannya. Hiranyakasipu meminta agar diberikan kehidupan abadi. Namun Dewa Brahma tidak bisa mengabulkannya. Dewa Brahma meminta agar Hiranyakasipu untuk meminta permohonan yang lain. Karena kehidupan abadi tidak bisa dikabulkan, Hiranyakasipu pun memilih agar dirinya tidak bisa dibunuh oleh dewa, asura/raksasa, manusia dan binatang. Dia juga meminta tidak bisa terbunuh oleh segala senjata. Tidak terbunuh dipagi, siang dan malam hari, tidak terbunuh diluar ataupun didalam ruangan. Dan tidak bisa terbunuh di udara, air maupun diatas tanah. Dia berpikir dengan permintaan seperti itu juga sama dengan artinya dengan tidak bisa terbunuh sedikitpun alias hidup abadi. Dewa Brahma pun mengabulkan permohonannya itu.

Ditempat Dewa Narada, istri dari Hiranyakasipu telah melahirkan seorang anak bernama Pralahda. Dia tumbuh besar dan diajarkan segala ilmu kebaikan terutama selalu memuja Dewa Wisnu. Dia selalu menyanyikan dan melantunkan mantram-mantram pemujaan Dewa Wisnu. 

Hiranyakasipu yang tahu istrinya dibawa oleh Dewa Narada akhirnya menjemputnya untuk dibawa kembali ke kerajaan. Dia amat sangat marah mengetahui istri dan anaknya malah menjadi pemuja Dewa Wisnu. Hiranyakasipu berusaha membujuk anaknya untuk meninggalkan ajaran-ajaran tentang Dewa Wisnu. Namun anaknya yaitu Pralahda selalu membantahnya dan selalu menyenandungkan mantram-mantram Dewa Wisnu.

Semakin hari Hiranyakasipu selalu mencari cara agar Pralahda segera melupakan Dewa Wisnu. Sering kali Pralahda dihukum olehnya. Namun hukumannya selalu gagal karena disekililing Pralahda seakan-akan ada pelindung yang melindunginya. Setiap kali Pralahda dihukum, dia juga selalu menyenandungkan mantram-mantram Dewa Wisnu sehingga Hiranyakasipu semakin marah. Karena amarahnya sudah tidak terkendali, Hiranyakasipu pun menantang Pralahda untuk menunjukkan dimana Dewa Wisnu dan menyuruh Pralahda membawa Dewa Wisnu kehadapannya. Pralahda menjawab bahwa Dewa Wisnu itu tidak perlu dicari, karena beliau berada dimana-mana. 

Mendengar anaknya berkata seperti itu Hiranyakasipu semakin marah dan memukul salah satu pilar istana kerajaan sampai hancur. Disalah tiba-tiba muncul sosok Dewa Wisnu dengan wajah murka. Dewa Wisnu murka karena selama ini Hiranyakasipu telah sewenang-wenang terhadap Pralahda yang begitu taat memujanya. Melihat Dewa Wisnu yang murka Hiranyakasipu menantang beliau karena merasa dirinya tidak bisa terbunuh sekalipun harus berhadapan dengan seorang Dewa. Dewa Wisnu seketika merubah diri-Nya menjadi manusia yang berkepala singa lengkap dengan cakar-cakarnya yang begitu tajam. Beliau saat itu menyebut diri-Nya Narasimha Awatara. Melihat wujud Dewa Wisnu yang menyeramkan Hiranyakasipu berlari keluar dari istana. Namun tepat diambang pintu istana Narasimha menangkapnya dan manaruh Hiranyakasipu dipangkuannya. Dengan cakar-cakar kukunya, Narasimha merobek perut Hiranyakasipu diatas pangkuannya tepat saat disenja kala. Akhirnya Hiranyakasipu tewas diatas pangkuan Narasimha yang berwujud manusia berkepala singa dengan cakar-cakarnya.



Begitulah akhir hidup dari Raksasa Hiranyakasipu. Walaupun dia mendapat anugrah tidak akan mati oleh dewa, raksasa, manusia dan binatang, namun dia mati karena wujud dari Dewa Wisnu yang merubah dirinya menjadi manusia berkepala singa. Tidak bisa terbunuh oleh senjata apapun, namun mati karena cakar atau kuku. Tidak bisa terbunuh dipagi, siang maupun malam tapi mati disenja hari. Tidak bisa terbunuh di luar atau dalam ruangan namun mati diambang pintu istana. Tidak bisa terbunuh di udara, air dan tanah namun mati diatas pangkuan Sang Narasimha.

Narasimha awatara yang telah memlenyapkan Hiranyakasipu tidak surut kemarahannya sampai disitu. Karena amarahnya yang terlanjur membara, beliau mengamuk keseluruh penjuru alam semesta dan mengancam kehidupan semua makhluk hidup. Dewa Siwa yang melihat sahabatnya tersebut mengamuk turun ke dunia untuk menemui-Nya. Namun Narasimha Awatara terlanjur tidak terkendali dan malah menyerang Dewa Siwa. Dewa Siwa yang berusaha menghindar kemudian merubah wujudnya menjadi manusia bertubuh singa dan bersayapkan burung yang disebut dengan Sarabha Awatara. Beliau Sarabha Awatara berusaha menenangkan Dewa Wisnu yang masih berwujudkan Narasimha Awatara.


Dilain sisi, karena tewasnya Hiranyakasipu, maka diangkatlah Pralahda menjadi Sang Raja kerajaan. Dia memimpin kerajaannya dengan baik dan membawa rakyatnya ke kehidupan yang lebih sejahtera untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahnya.

Kamis, 03 Februari 2022

Pan Balang Tamak

Alkisah disuatu daerah kerajaan, terdapat sebuah desa, bertempat tinggal seorang lelaki paruh baya bernama Pan Balang Tamak. Dia hidup berkecukupan bersama seorang istri dan anaknya. Di desa tersebut, dia dikenal banyak akal, cerdik dan terkesan licik. Tapi sifatnya itu bukannya tidak punya alasan, karena sering kali pengurus-pengurus desa tersebut membuat kebijakan-kebijakan peraturan yang tidak jelas dan terkesan ambigu untuk diikuti. Nah, dari situlah seringkali saat peraturan baru dibuat, Pan Balang Tamak selalu berusaha mengibulinya dengan cara-cara yang nyeleneh. Karena kenyelenehannya itu, para pengurus desa selalu membikin peraturan yang sebisa mungkin untuk merugikannya.

Diceritakan suatu saat, ketua desa akan merencanakan akan mengadakan kegiatan gotong royong. Ketua desa menyatakan kegiatan gotong royong akan dilakukan saat ayam berkokok atau turun dari kandangnya (ayam berkokok biasanya dipakai patokan saat matahari baru terbit). Jika tidak datang saat kegiatan atau terlambat datang, maka orang itu akan dikenakan denda uang. Mendengar arah-arahan seperti itu, Pan Balang Tamak merenung karena dia tidaklah punya ayam jantan yang notabene selalu berkokok dan turun kandang di pagi hari. Bagaimana dia bisa datang ke kegiatan tersebut.

Kemudian tibalah hari dimana warga akan melakukan kegiatan gotong royong. Di pagi itu tidaklah tampak kehadiran si Pan Balang Tamak. Para warga pun mulai membicarakannya dan melapor ke ketua desa. Ketua desa memutuskan akan mendenda si Pan Balang Tamak. Saat matahari sudah mulai terik dan kegiatan sudah mulai berakhir, tiba-tiba muncul si Pan Balang Tamak. Ketua desa langsung menghampirinya dan menyatakan Pan Balang Tamak akan kena denda, karena datang tidak sesuai waktu yang diarahkan. Tapi Pan Balang Tamak menyangkal tuntutan ketua desa. Dia beralasan ayamnya baru saja berkokok dan turun dari kandang. Ketua desa tidak percaya dengan alasannya. Ketua desa berpikir ayam apa hari sudah siang baru barkokok dan turun dari kandang. Karena ketua desa tidak percaya, Pan Balang Tamak mengajak ketua desa ke rumahnya untuk melihat ayamnya. Ternyata Pan Balang Tamak hanya punya ayam betina dan itu pun sedang mengeram. Itulah sebabnya dia terlambat datang karena ayam betina yang sedang mengeram memang turun dari kandang saat mulai siang. Melihat Pan Balang Tamak beralasan seperti itu, ketua desa dan warga lainnya terdiam tidak bisa menuntut Pan Balang Tamak.

Suatu hari di pusat kerajaan, Sang Raja memerintahkan di semua desa agar melaksanakan kegiatan berburu. Setiap hasil buruan akan diserahkan ke kerajaan. Ketua desa segera mengumumkan pada satu hari semua warga desa agar ikut berburu dan diwajibkan membawa anjing untuk membantu menyasar hewan buruan. Bagi siapa yang tidak ikut dan tidak membawa anjing, maka akan dikenakan denda. Begitu arahan ketua desa kepada warganya. Pan Balang Tamak ikut menyaksikan arah-arahan tersebut dan kembali merenungkan dirinya. Dia tidaklah punya anjing pemburu. Di rumahnya dia cuma punya anak anjing kurus. Jangankan mengejar hewan buruan, berjalan pun anjingnya terasa sulit. 

Tibalah hari warga untuk berburu. Semua warga terlihat membawa anjing yang gagah-gagah dan galak. Kecuali si Pan Balang Tamak. Dia hanya membawa anak anjing kurus yang terlihat jarang makan. Warga yang lain pun menatap sinis si Pan Balang Tamak. Bahkan ada yang meledeknya agar anjing si Pan Balang Tamak agar dibawa pulang saja untuk tidur. Tak terkecuali ketua desa, dia juga ikut meledek si Pan Balang Tamak sambil geleng-geleng kepala. Pan Balang Tamak tidak mau kalah, dia membilang kalau anjingnya tidak bisa diremehkan. Para warga pun tertawa mendengar ocehannya. Sesampai di hutan para warga melepas anjing mereka agar segera melacak hewan buruan. Namun si Pan Balang Tamak bersembunyi di balik semak-semak bersama anjingnya. Sampai hari mulai siang namun satu hewan pun tidak didapat oleh para warga. Semua terlihat lesu karena kelelahan dan pulang dengan tangan kosong. Disitulah keluar akal dari si Pan Balang Tamak. Dia melempar anjingnya ke jurang yang penuh duri, seketika anjingnya mengerang kesakitan karena tergores oleh duri-duri. Disaat itu Pan Balang Tamak juga berteriak bahwa dia melihat babi hutan di arah jurang sambil nunjuk-nunjuk. Seketika warga gempar dan menuju kearah jurang. Saat melihat jurang para warga hanya melihat anjing si Pan Balang Tamak tersangkut sembari meringis kesakitan. Dan Pan Balang Tamak berteriak kepada warga agar melihat tekad dari anjingnya tersebut. Walaupun kecil dan kurus, dia membilang anjingnya langsung melompat ke jurang yang penuh duri karena melihat seekor babi hutan. Tapi karena tersangkut duri, babinya keburu lari. Mendengar hal seperti itu, semua warga beserta ketua desa terbengong melihat kelakuan Pan Balang Tamak. Lagi-lagi ketua desa beserta warga tidak bisa berkutik melihat kelakuan si Pan Balang Tamak.

Merasa terus menerus dikibuli oleh Pan Balang Tamak, ketua desa merencanakan sesuatu untuk menjebak Pan Balang Tamak. Ketua desa bersama rekan-rekannya merencanakan untuk membuat suatu kegiatan desa. Mereka merancang agar semua warga desa untuk berkebun dan hasil kebun akan disetor ke desa untuk pemasukan desa. Barang siapa yang tidak mengikuti aturan dan kedapatan mencuri hasil perkebunan untuk setoran ke desa, akan dikenakan denda. Begitu peraturan dari ketua desa karena menimang Pan Balang Tamak bukanlah seorang yang mahir dibidang perkebunan. Mendengar peraturan baru tersebut, Pan Balang Tamak kembali merenung sembari berpikir bagaimana cara mengakali aturan tersebut. 

Disuatu pagi tercetuslah ide dari si Pan Balang Tamak, di lahan kosong di depan rumahnya dia mulai menggemburkan tanah untuk bercocok tanam. Bukan umbi-umbian atau buah-buahan ditanam olehnya. Melain tanaman pulet-pulet (tanaman semak belukar yang buahnya gampang menempel dikain). Suatu pagi lewatlah salah satu anggota pengurus desa di depan rumah Pan Balang Tamak untuk memeriksa kebun si Pan Balang Tamak. Karena kebiasaan orang pada umumnya, pagi itu si pengurus desa tersebut kebelet untuk buang air besar. Melihat ada semak belukar, pengurus desa tersebut melompat kesana untuk membuang hajatnya. Karena cerdiknya si Pan Balang Tamak, tiba-tiba dia berteriak ada maling, bahwa ada yang mencuri hasil perkebunannya. Seketika kagetlah si pengurus desa. Dan satu persatu warga desa datang beserta ketua desa. Ketua desa bertanya dimana malingnya. Pan Balang Tamak menunjuk pengurus desa tersebut bahwa dialah malingnya. Pengurus desa itu pun membela diri bahwa dirinya tidak ada maling sama sekali. Dia hanya buang air besar saja di semak-semak itu. Pan Balang Tamak makin ngotot, dia membilang bahwa semak-semak itulah kebunnya. Dan bukti dari bahwa malingnya adalah si pengurus desa, dipakaian pengurus desa tersebut banyak menempel buah dari tanaman semak-semak/pulet-pulet tersebut. Dia juga membilang bahwa pengurus desa tersebut haruslah didenda sesuai aturan. Mendengar penjelasan si Pan Balang Tamak seperti itu, lagi-lagi Ketua Desa dan warga dibuat geleng-geleng kepala tanpa bisa menyangkal kata-kata dari si Pan Balang Tamak. Dan si pengurus desa tersebut akhirnya dikenakan denda sesuai peraturan yang diarahkan sebelumnya.

Ketua desa dibuat pusing tujuh keliling oleh tingkah polah si Pan Balang Tamak. Peraturan apapun dibuatnya, tidak pernah bisa menjebak tingkah polah si Pan Balang Tamak. Dan ketua desa pun akan mengajak semua warga desa sangkep (rapat desa) tanpa terkecuali si Pan Balang Tamak untuk membahas peraturan-peraturan desa. Mendengar akan ada sangkep, Pan Balang Tamak mulai berpikir lagi bagaimana cara dia untuk menjahili para pengurus desa lagi. Saat dia ke dapur, dilihatlah istrinya sedang membuat jaje iwel (jajanan khas bali dari tepung dan berwarna hitam kecoklatan). Terbesitlah suatu ide dipikiran si Pan Balang Tamak.

Pagi-pagi buta sebelum sangkep dimulai. Pan Balang Tamak menuju ke Balai Desa tempat diadakannya sangkep/rapat. Dia membersihkan sudut-sudut lantai balai desa tersebut. Di sudut-sudut lantai tersebut ditaruh olehnya jajanan iwel yang dibuat oleh istrinya agar dikira kotoran anjing oleh warga. Tidak lupa dia memercikkan sedikit air diatas jajan iwel tersebut agar terlihat lebih mirip seperti kotorannya anjing.

Tibalah waktu untuk para warga sangkep/rapat. Sebelum rapat dimulai warga desa diarahkan untuk bersih-bersih dahulu agar balai desa bersih. Terlihatlah disana ada beberapa jumputan kotoran anjing di sudut-sudut lantai. Pan Balang Tamak pun memulai aksinya. Dia menantang bagi siapa pun yang berani memakan kotoran anjing itu, dia akan membayarnya dengan sejumlah uang yang besar. Ketua desa kembali dibuat kesal oleh kata-kata si Pan Balang Tamak. Ketua desa mengatakan orang mana yang mau memakan kotoran anjing, orang gila pun tidak akan mau. Pan Balang Tamak kembali menantang, jika kalau dirinya lah yang berani memakan kotoran itu, dia juga meminta agar dibayar dengan mahal oleh ketua desa jika berhasil memakan semua kotoran tersebut. Ketua desa mengernyit dan menerima tantangan si Pan Balang Tamak karena menilai hal itu mustahil. Dengan penuh jiwa kemenangan, Pan Balang Tamak pun melahap sampai habis jajan iwel tersebut yang menyerupai kotoran anjing. Ketua desa dan para warga terbengong melihat tingkah laku Pan Balang Tamak yang begitu lahap menelan kotoran anjing. Sembari merogoh uang untuk membayar kekalahan dari tantangan si Pan Balang Tamak, ketua desa juga kembali diperdaya oleh tipu dayanya.

Terus menerus diperdaya oleh Pan Balang Tamak, ketua dan para pengurus desa melakukan pertemuan dengan Sang Raja. Mereka mengadukan apa-apa yang telah dilakukan Pan Balang Tamak di desanya. Sang Raja pun membilang bahwa Pan Balang Tamak sudah tidak layak lagi untuk hidup di wilayah kerajaannya. Sang Raja memanggil dukun kerajaan untuk meminta cetik (racun ilmu hitam) yang paling mematikan untuk diberikan ke Pan Balang Tamak. 

Namun hal tersebut terdengar sampai ke telinga si Pan Balang Tamak. Merasa dirinya sudah tidak mungkin lagi bisa bertahan hidup, dia pun menitipkan pesan ke istrinya. Dia menyuruh seandainya dia nanti mati, mayatnya dia agar ditaruh di balai dangin (balai tempat upacara agama). Mayatnya dia suruh untuk dipakaikan pakaian serba putih dan rambut dibiarkan teruai. Di langit-langit balai, dia suruh istrinya untuk menaruh sarang lebah miliknya. Pan Balang Tamak juga menyuruh istrinya setelah senja saat itu tiba, mayatnya agar ditaruh didalam peti yang ada di balai daje (balai utama). Begitu pesan si Pan Balang Tamak kepada istrinya karena sudah merasa dirinya sudah tidak ada kesempatan lagi untuk hidup menimang murka sudah Sang Raja.

Singkat cerita Pan Balang Tamak akhirnya mati karena telah dicetik atau diracun oleh para pengurus desa atas permintaan sang raja. Istrinya pun melakukan apa yang telah diperintahkan oleh Pan Balang Tamak sebelumnya.




Ketua desa yang penasaran akan hasil dari racun tersebut mengutus salah satu pengurus desa agar mengintai ke rumah si Pan Balang Tamak. Alangkah kagetnya si pengurus desa tersebut melihat si Pan Balang Tamak duduk bertapa di Balai Dangin sambil melafalkan mantra. Pan Balang Tamak terlihat seperti seorang pendeta suci yang sedang bertapa dengan memakai pakaian serba putih dan rambutnya teruai. Si pengurus desa tersebut tidak sadar bahwa yang dilihatnya adalah mayat si Pan Balang Tamak. Sedangkan mantra yang terdengar adalah bunyi dari kawanan lebah yang telah ditaruh berserta sarangnya di langit-langit balai tersebut. Si pengurus desa segera melapor ke ketua desa bahwa Pan Balang Tamak masih hidup, bahkan menjadi sesosok orang suci. Ketua desa yang begitu saja percaya kepada anak buahnya itu pun segera menemui Sang Raja karena racun yang diberikannya tidak mempan. Sang Raja yang merasa kecewa itu pun langsung mencicipi racun tersebut untuk mengujinya dan seketika Sang Raja langsung meninggal saat itu juga.

Malam mulai tiba saat suasana menjadi mencekam karena kematian Sang Raja. Melihat situasi yang lagi kacau, ada dua orang maling yang memanfaatkan keadaan. Mereka beraksi dimalam itu dan memasuki sebuah rumah untuk dijarah. Kawanan maling itu langsung masuk ke balai daje (balai utama) karena di balai tersebutlah biasanya penghuni rumah menyimpan harta-hartanya. Mereka menemukan sebuah peti. Mereka pun kegirangan karena peti sebesar itu pasti menyimpan banyak harta. Karena maruknya, mereka menggondol peti itu keluar dari pekarangan rumah tersebut. Karena situasi sedang berduka karena kematian Sang Raja, mereka pun membawa peti itu untuk masuk ke areal Pura (tempat suci Agama Hindu). Karena saat ada kematian, biasanya semua warga tidak boleh masuk ke areal pura kecuali Pemangku (orang suci). Kedua maling tersebut berencana membuka peti tersebut dan membagi hartanya. Saat peti dibuka, betapa kagetnya mereka ternyata isi dari peti tersebut adalah mayat dari si Pan Balang Tamak. Mereka pun lari tunggang langgang setelah membanting tutup dari peti tersebut sehingga peti tertutup lagi.

Keesokan harinya di pagi hari,  Pemangku (orang suci) dari pura tersebut seperti biasa melakukan aktifitasnya di pura itu. Betapa kagetnya beliau melihat sebuah peti besar di areal pura tersebut. Segera Pemangku tersebut mencari Ketua Desa melaporkan apa yang ditemukannya. Ketua desa dan warga pun menebak dan yakin bahwa peti itu adalah Paica Bhatara (rejeki dari Dewa). Ketua desa pun menyuruh Pemangku Pura tersebut untuk membuat sebuah ritual keagamaan untuk Paica tersebut. Dengan diakhiri dengan nunas tirta (meminum air suci dari ritual keagamaan) paica tersebut, akhirnya ketua desa memerintahkan agar peti itu segera dibuka. Agar semua warga tahu apa isi dari paica atau peti tersebut. Begitu peti itu dibuka, betapa kagetnya semua orang melihat sesosok mayat yang sudah mulai membusuk dan menyebarkan bau yang begitu menyengat. Semua warga lari kepanikan karena ternyata isi dari peti tersebut adalah mayat si Pan Balang Tamak. Semua warga kebingungan dan merasa marah tak terhingga karena baru saja mereka melakukan ritual dan menyembah sesosok mayat orang yang selama ini mereka benci yaitu si Pan Balang Tamak.

Begitulah cerita si Pan Balang Tamak yang penuh dengan tipu dayanya. Walaupun dia sudah meninggal, dia tetap bisa memperdaya semua orang.

Cerita ini pertama saya dengar dari almarhum bapak saya, dimana dulu sangat senang mendongengi saya sebelum tidur sama seperti almarhum kakek saya. Walapun si Pan Balang Tamak ini penuh dengan tipu daya dan terkesan suka seenaknya, tapi dia mempunyai alasan kenapa dia menjadi seperti itu. Dia seperti itu karena lingkungan yang memaksanya. Menjadi seorang warga yang hidup disebuah desa yang setiap waktu selalu mendengar arahan-arahan dari para pengurus desa yang  selalu ambigu dan terkesan dipaksakan. 

Demikian cerita dari Pan Balang Tamak, semoga terhibur dan bisa menggali makna dari dongeng adat Bali ini yang begitu melegenda.

Terima Kasih.

Sabtu, 22 Januari 2022

Si Ayam dan Si Itik

Diceritakan di sebuah hutan hiduplah seekor ayam dan itik. Mereka bersahabat dari kecil dan sudah seperti saudara. Apapun keperluannya, mereka selalu pergi berdua. 

Suatu  ketika saat menjelang senja, mereka sedang makan dan saling bercekerama. Saat matahari mulai tenggelam, si ayam mau kembali ke rumahnya. Dengan alasan saat senja, maka penglihatan matanya akan sedikit kabur. Namun si itik mencegahnya, dengan membilang nanti dia lah yang akan mengantarnya pulang. Karena si itik masih ingin bercengkerama sambil menghabiskan senja. Si ayam akhirnya membatalkan niatnya untuk pulang lebih awal dan memutuskan menemani sahabatnya itu. Si itik kemudian kepikiran kenapa kalau senja hari penglihatan si ayam menjadi kabur atau rabun. Si ayam menjawab bahwa mungkin itu memang kekurangan yang diberikan oleh sang Pencipta. Namun si ayam mengatakan selain kekurangan itu, disisi lain dia mempunyai kelebihan yaitu dia mempunyai selaput dikaki beserta tanduk dikaki. Dia mengatakan dia bisa berenang di air dengan selaput kakinya itu dan juga bisa melawan musuh dengan tanduk dikakinya. Si ayam juga mengatakan dia diberi satu kekurangan, namun dia juga punya dua kelebihan.

Si itik melihat ke sekeliling kakinya, dia tidaklah punya selaput dan tanduk seperti si ayam. Dia pun menggerutu kenapa sang Pencipta tidak memberikan kelebihan kepadanya. Si ayam pun tertawa, dan membilang walaupun si itik tidak mempunyai selaput dan tanduk dikaki, bukankah dia juga tidak mempunyai kekurangan seperti rabun seperti dirinya. Bahkan si itik mempunyai kelebihan pada paruhnya. Dimana paruhnya bisa membedakan makanan yang ada didalam lumpur. Mereka pun akhirnya tertawa dan si itik berlagak sombong kalau dirinya punya kelebihan tanpa kekurangan.

Hari sudah mulai malam, mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Seperti janjinya, si itik akhirnya mengantar si ayam sampai di rumahnya. Mereka pun akhirnya berpisah dan menuju rumah masing-masing. Di malam itu, si itik sampai di rumahnya sembari merenungkan obrolannya dengan si ayam tadi. Dia kembali berpikir, kenapa dia tidak punya selaput dan tanduk seperti di kaki si ayam. Bagaimana seandainya jika ada hewan lain yang memburunya, bagaimana dia bisa melawan hewan tanpa senjata seperti tanduk. Bagaimana kalau terjadi banjir, bagaimana dia bisa lolos dari banjir sedangkan dia tidak punya selaput kaki untuk berenang. Pikiran si itik menjadi kemana-mana malam itu.

Saat pagi tiba, mereka kembali bertemu. Mereka berencana mau ketepian sungai untuk mencari minum sambil membersihkan diri mereka. Sesampai di tepian sungai, tiba-tiba terdengar suara mendengus. Seketika si ayam dan si itik kaget dan melompat ke sungai karena ada seekor musang menerkam ke arah mereka. Si ayam berenang di sungai namun si itik terbawa arus sungai karena tidak bisa berenang. Si ayam pun segera berenang ke arah si itik untuk menyelamatkannya. Akhirnya si itik berhasil diselamatkan oleh si ayam. Mereka pun menepi ke sisi sungai seberang untuk menjauh dari kejaran si musang. Si ayam kemudian berusaha menakut-nakuti si musang dengan memamerkan tanduk dikakinya sembari mengambil ancang-ancang untuk segera melompat. Karena ancaman si ayam itu, akhirnya si musang kabur ke dalam hutan.

Si itik akhirnya merasa lega karena si musang sudah pergi. Sembari mengucapkan terima kasih kepada si ayam. Si ayam pun membalasnya sembari menenangkan sahabatnya itu. Si itik merenung seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki, pasti dia bisa melawan si musang itu. Si ayam melihat si itik termenung dan menerka pikiran sahabatnya itu. Si ayam membilang tidak usah berpikir seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki. Si ayam pun menjamin akan melindungi si itik apapun terjadi. Si itik tersenyum lega, namun si itik mempunyai niatan lagi. Si itik berniat meminjam selaput dan tanduk kaki si ayam. Agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai kedua benda tersebut. Si ayam merasa ragu akan permintaan si itik. Si itik pun merayu dan berjanji dia hanya meminjam sebentar dan akan langsung mengembalikan setelah dia merasakan bagaimana rasa mempunyai selaput dan tanduk kaki. Si ayam akhirnya mengikuti keinginan sahabatnya itu, tapi hanya meminjamkan selaput kaki saja, karena dia sulit melepaskan tanduk dikakinya itu.

Berhasillah si itik meminjam selaput kaki si ayam. Dengan kegirangan si itik melompat ke sungai dengan riang. Sambil bersorak-sorak dia makin kearah tengah bagian sungai. Si ayam pun memperingatinya agar segera mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik bilang lagi sebentar. Hari semakin sore si itik malah berenang makin jauh. Si ayam mengejarnya dari tepi sungai sembari menyuruh si itik mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik tetap cuek dan mengacuhkan si ayam. Disanalah si ayam mulai kesal dan geram. Si ayam mengancam jika si itik tidak mengembalikan selaput kakinya, maka si ayam akan mengutuk si itik agar keturunannya nanti akan selalu mengejar keturunan si itik untuk menagih selaput kaki miliknya. 

Nb. Nah, demikianlah dongeng antara si ayam dan si itik. Sampai saat ini pun jika kita melihat ayam bertemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar-ngejar si itik. Begitulah cocokologi yang tepat antara cerita diatas dengan fakta sebenarnya. Cerita ini hanya dongeng belaka, yang saya sempat karang waktu saya masih SD karena melihat setiap ada ayam ketemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar itik tersebut. 

Minggu, 16 Januari 2022

Padanda Baka

Diceritakan ada sebuah kolam di suatu desa. Kolam tersebut sangat luas dan asri. Dihuni beraneka ragam ikan dan sejenisnya. Kolam tersebut dikenal bernama kolam Kumudana.

Suatu ketika ada seekor burung bangau melintas terbang diatas kolam tersebut. Burung bangau itu memakai pakaian atau jubah seperti Pedanda (Pendeta dalam Ajaran Hindu). Sekilas dia melihat ada banyak ikan di kolam tersebut. Melihat ada ikan disana, si Bangau pun turun dan hinggap di sebuah batu. Seketika ikan-ikan kabur menyelam ke kedalaman karena takut dimangsa oleh bangau itu.

Si bangau kemudian berkata bahwa dia tidaklah ingin memangsa ikan-ikan tersebut. Dia bercerita dia bukanlah bangau biasa. Bisa dilihat dari jubah yang dipakainya. Dia mengatakan bahwa dia adalah seorang pendeta. Pendeta tidaklah akan memakan ikan karena itu bertentangan dengan ajarannya. Melihat si bangau berkata seperti itu, para ikan pun muncul ke permukaan kolam karena tertarik mendengar cerita si bangau.

Si bangau melanjutkan ceritanya, dia menjadi pendeta karena dulu dia pernah sakit. Setelah dia mencari penyebab penyakitnya, muncullah wahyu dari Tuhan bahwa sakitnya karena dia selalu memangsa ikan. Kemudian berhentilah dia memangsa ikan dan jadilah dia orang suci atau pendeta. Para ikan dan penghuni kolam lainnya terkesima dengan cerita si bangau. Dan percaya bahwa si bangau itu bukanlah seperti bangau lainnya. Setelah bercerita, pergilah si bangau dari kolam tersebut dan membilang ke para ikan-ikat tersebut dia mau menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan.

Keesokan harinya, si bangau kembali datang ke kolam tersebut dan para ikan pun menyambutnya berharap diceritakan ajaran-ajaran kebaikan. Namun wajah si bangau terlihat pucat. Si ikan pun menanyakan ada apa gerangan. Si bangau bercerita bahwa baru saja dia mendengar percakapan dua orang manusia. Katanya lagi seminggu, mereka akan menguras air kolam tersebut dan menangkap semua ikan-ikan yang ada. Para ikan pun kaget mendengar ucapan si bangau dan belum sepenuhnya percaya. Kemudian si bangau meyakinkan para ikan bahwa ajaran dan ucapan pendeta tidaklah boleh berbohong. Karena bertentangan dengan kebaikan. Para ikan pun percaya dan memohon jalan keluar agar mereka tetap hidup. Si bangau pun menenangkan para  ikan dan berjanji akan menolong mereka. Si bangau pun pergi sembari bilang akan datang lagi untuk membawa solusi.

Seiring berjalannya waktu, si bangau datang lagi ke kolam Kumudana. Dia disambut penuh harapan oleh para ikan. Si bangau berkata ada sebuah kolam yang begitu luas dan asri dekat pegunungan. Tidak kalah asri dengan kolam Kumudana. Dia berencana akan membawa ikan tersebut satu-persatu ke kolam tersebut. Para ikan pun merasa lega dan bersyukur. Si bangau berjanji mulai keesokan harinya dia akan memindahkan para ikan satu-persatu.

Tibalah hari dimana si bangau akan memindahkan ikan-ikan tersebut. Para ikan tidak sabar dan berebutan meminta paling pertama. Dan disela-sela itu, ada seekor kepiting juga meminta agar dipindahkan paling pertama. Si bangau meminta agar si kepiting agar diangkut paling terakhir saja. Si bangau beralasan bahwa si manusia pasti akan menangkap para ikan terlebih dahulu dan si kepiting juga masih bisa bersembunyi didalam tanah. Diangkutlah satu persatu ikan tersebut oleh si bangau dengan memakai paruhnya dan terbang menuju kolam yang baru.

Kemudian tibalah giliran si kepiting untuk diangkut. Seperti sebelumnya si bangau memakai paruhnya untuk membawa si kepiting. Namun si kepiting terus terlepas karena tubuhnya yang keras. Si bangau menyarankan agar si kepiting memeluk leher dirinya yang panjang saja agar tidak terjatuh. Si kepiting pun melingkarkan kedua capitnya keleher si Bangau. Kemudian terbanglah mereka menuju kolam yang dituju.

Diperjalanan, dari udara si kepiting iseng menoleh kebawah. Si kepiting kaget melihat banyak tulang ikan berserakan didaratan. Si kepiting mulai curiga akan tingkah laku si bangau. Dia curiga bahwa si bangau tidaklah memindahkan para ikan melainkan memangsanya. Berarti selama ini apa yang diceritakan si bangau tidaklah benar. Dia memakai pakaian pendeta hanyalah untuk menipu para ikan agar percaya bahwa dia adalah orang suci. Karena merasa kesal karena telah ditipu, si kepiting pun tiba-tiba mencapit leher si bangau dan menanyakan kemana ikan-ikan tersebut dibawa. Si bangau mengerang kesakitan sembari membilang bahwa para ikan telah sampai di kolam didekat pegunungan. Namun si kepiting tidak percaya dan mencapit lebih keras sembari bertanya kenapa dibawah banyak sekali tulang-tulang ikan. Si bangau kembali berkelit bahwa itu tulang-tulang ikan lain yang dimangsa oleh bangau lain. Si kepiting  tetap tidak percaya karena tulang-tulang tersebut terlihat masih baru seperti ikan yang baru saja dimakan. Si kepiting mencapit leher si bangau lebih keras dan menyuruhnya mendarat. Si bangau pun menurutinya sembari meringis kesakitan. Si kepiting meminta agar si bangau jujur saja daripada lehernya putus. Si bangau pun mengaku bahwa dia telah memangsa semua ikan dan kolam yang dijanjikannya hanya sebuah kebohongan. Dia pun mengaku dia bukanlah pendeta. Jubah yang dipakainya hanyalah kedok agar dia bisa dipercaya oleh siapapun. Si kepiting kemudian mencapit leher si bangau sampai putus karena merasa kesal. Si bangau pun akhirnya mati ditangan si kepiting.

Di Bali khususnya di Agama Hindu bangau tersebut disebut Padanda Baka. Bisa diartikan pendeta pembohong atau dusta. Ini sering diceritakan turun-temurun oleh para tetua di Bali kecucu-cucunya. Agar kita tidak mudah percaya kepada orang yang terlihat baik atau terlihat suci. Karena kadang-kadang pakaian bisa menipu kita. Dengan kedok yang terlihat suci, bisa saja dipakai untuk menipu dan mempermainkan orang. Begitulah kira-kira pelajaran yang bisa dipetik dari cerita dongeng diatas.

Salam Rahayu.

Nb. Referensi dari cerita kakek saya.

Sabtu, 15 Januari 2022

Mitos-mitos Orang Jaman Dulu di Bali

 Masa-masa kecil saya tinggal di sebuah desa bernama desa Laplapan yang berada di daerah kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Masa itu saya lebih sering berinteraksi bersama nenek dan kakek saya. Karena kedua orang tua saya sehari-harinya bekerja. Pada masa itu sering saya dapat nasehat-nasehat dari nenek maupun kakek saya. Termasuk larangan-larangan yang kurang bisa dicerna atau bisa disebut mitos. Seperti kebanyakan orang tua jaman dulu sering kali mitos ini diutarakan tanpa alasan yang jelas, lebih sering kita diberi alasan berupa kalimat “mule keto” atau memang seperti itu.

Berikut adalah mitos-mitos orang tua jaman dulu di Bali:

1. Tidak boleh duduk diatas talenan, katanya nanti pantatnya bisa sebesar talenan. Talenan biasanya digunakan untuk alas memotong bahan-bahan masakan didapur. Untuk alas memotong daging, sayur maupun bumbu-bumbu masakan. Tidak ada relevansinya kalau kita duduk diatas talenan maka pantat bisa sebesar talenan. Padahal logikanya, talenan bukanlah alat untuk diduduki. Jika pun kita duduk diatas talenan, itu sangatlah bisa berbahaya, karena sering kali talenan digunakan untuk alas memotong bumbu-bumbu masakan, maka pantat kita bisa nyeri atau panas karena bekas bumbu-bumbu dapur.

2. Tidak boleh duduk diatas bantal tidur, nanti bisa bisul. Bisul adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada kulit yang menyebabkan permukaan kulit bengkak dan biasa muncul diarea dubur. Ini juga tidak ada korelasinya antara bantal dan bisul. Ini sebanarnya masalah etika saja. Bantal tidur yang seharusnya diperuntukan untuk alas kepala saat tidur, sudah pasti tidak etis untuk diduduki.

3. Orang hamil tidak boleh duduk diambang pintu, nanti anaknya sulit lahir. Kalau sulit lahir, bukankah sekarang ada yang namanya operasi caesar (hehehe). Orang biasa yang duduk diambang pintu juga sebenarnya kalau bisa janganlah duduk diambang pintu, karena akan menghalangi orang yang mau lewat. Apalagi orang yang sedang hamil, ya kan. 

4. Jangan duduk dibawah pohon dimalam hari, nanti diculik kuntilanak. Siapa juga ingin duduk-duduk dibawah pohon dimalam hari, sudah dingin bisa digerayangi nyamuk juga. Selain itu juga ada jawaban yang lebih alamiah. Yaitu karena tumbuhan pada malam hari akan menghisap oksigen juga seperti manusia. Beda kalau saat siang hari dimana tumbuhan akan menghisap karbon dioksida. Maka dari itu saat kita duduk dibawah pohon dimalam hari, akan terjadi perebutan oksigen secara tidak langsung. Yang menyebabkan sistem pernafasan kita jadi kurang normal.

5. Kalau makan jangan sampai sisa, nanti ayamnya mati. Padahal kalau sisa, makanannya bisa dikasi ayam dan tidak mungkin matilah secara logika. Ini lebih menekankan janganlah menyisakan makanan saat makan karena kita harus lebih menghargai makanan atau rejeki.

6. Tidak boleh potong kuku dimalam hari, nanti bisa putus dengan orang tua. Lagi-lagi tidak ada relevansinya. Padahal alasannya jika potong kuku dimalam hari itu terlalu bahaya, karena kurang optimalnya cahaya dimalam hari walaupun ada lampu, maka bisa saja akan melukai jari kita.

7. Tidak boleh duduk diatas lesung, nanti pantat bisa sebesar lesung. Ini sama sih dengan poin nomor satu penjelasannya. Lesung adalah alat atau media yang digunakan untuk menumbuk padi untuk mejadi beras, juga kadang-kadang digunakan untuk menumbuk kopi bahkan lesung yang kecil dipakai juga untuk menumbuk bumbu-bumbu masakan.

8. Tidak boleh meludah keorang lain, nanti bisa tumbuh kutil. Meludah ke orang memang tidak boleh sih karena tidak sopan sama sekali tanpa harus diancam-ancam bisa tumbuh kutil.

9. Tidak boleh menanam tanaman obat, nanti bisa ada keluarga yang sakit. Mungkin maksudnya jika kita menanam tanaman obat, bisa saja kita tersugesti bahwa suatu saat kita pasti akan sakit. Padahal jika kita menanam tanaman obat itu bagus, apalagi kalau tahu penggunaannya. Semisal kita menanam jahe atau ginseng. Itu bagus untuk ramuan minuman untuk sehari-hari.

10. Kalau membaca suatu bacaan, tidak boleh setengah-setengah, nanti ilmu pengetahuan kita bisa hilang. Disini maksudnya jangan membaca sesuatu itu tidak sampai selesai, nanti isi dari bacaan tersebut cuma setengah yang kita serap. Dan bisa saja kita sampaikan ke orang lain menjadi tidak jelas dan mengaburkan maksud dari bacaan tersebut.

Demikianlah mitos-mitos yang sering saya dengar dari tetua-tetua kita di Bali. Maksud mereka sebernarnya baik untuk kita. Agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi kehidupan kita. Namun jika dicerna, alasan-alasan yang mereka berikan memang kadang tidak masuk akal dan menggelitik. Namun bagaimana pun, maksud dan tujuannya adalah untuk kebaikan kita sebagai penerus mereka. Mungkin ada mitos-mitos lain dari pembaca, silahkan ditambahkan dikolom komentar.

Terima Kasih.

Sabtu, 08 Januari 2022

Belang Uyang

Diceritakan ada sebuah kerajaan yang maha besar di sebuah negeri. Sang Raja yang memimpin kerajaan tersebut dikenal bertangan besi atau kejam dikepemimpinannya. Rakyatnya cuma diperalat dengan menarik begitu banyak upeti disetiap usaha mereka. Banyak cara yang dilakukan untuk mengkudeta Sang Raja. Namun tidak pernah berhasil malah mereka dihukum mati bagi siapapun berani melawan Sang raja. Dibalik kekejamannya, Sang Raja memelihara seekor anjing. Konon katanya anjing inilah jadi jimat keberuntungan Sang Raja. Dimana anjing inilah yang selalu pertama mengendus jika Sang Raja dalam keadaan bahaya. Anjing ini diberi nama Si Belang Uyang.

Belang Uyang adalah anjing yang berbadan tinggi tegap, berwarna hitam dengan taring yang selalu keluar dari mulutnya. Air liurnya selalu menetes dari sela-sela taringnya. Siapa pun melihat anjing ini pasti seketika merasa ketakutan. Belang Uyang mempunyai ciri-ciri yang begitu khas. Yaitu warna belang putih di tubuhnya yang konon bisa berpindah-pindah posisinya. Dari sanalah namanya berasal, Belang yang mencirikan ada corak warna lain ditubuhnya, dan Uyang dalam Bahasa Bali berarti berpindah-pindah tempat.

Belang Uyang ini selalu berada disisi raja. Kemana pun raja berpergian dia selalu ikut seperti menteri-menteri raja lainnya. Disuatu hari raja ingin berburu ke sebuah hutan. Namun hutan tersebut dikenal sangat berbahaya. Konon katanya hutan tersebut dihuni oleh seekor harimau yang begitu ganas. Bahkan sering ada pemburu yang hilang di hutan tersebut yang katanya pasti dimakan oleh si harimau tersebut. Bahkan penduduk sekitar meyakini harimau itu adalah raja dari hutan tersebut. Para menteri raja sudah memperingatkan bahwa hutan tersebut sangat berbahaya. Namun raja malah merasa tertantang. Apalagi ada si Belang Uyang yang selalu ada disampingnya. Dimana raja selalu percaya kepada jimat keberuntungannya tersebut. Melihat raja terlalu percaya diri, ada seorang menteri memperingatkan sekali lagi karena takut akan keselamatan raja. Tiba-tiba si Belang Uyang mengeram bengis ke menteri itu seakan-akan menyuruh diam. Menteri pun ketakutan dan langsung terdiam.



Disuatu pagi berangkatlah raja beserta beberapa pasukan kerajaan dan tentu saja bersama si Belang Uyang juga. Sesampai di depan hutan mereka dihadang oleh sekawanan anjing liar. Seolah-olah kawanan anjing tersebut mencegah rombongan kerajaan untuk masuk hutan. Sang Raja menyuruh pasukannya untuk siaga kalau kawanan anjing tersebut menyerang. Semua pasukan mengarahkan senjatanya ke arah kawanan anjing liar tersebut. Begitu pun si Belang Uyang, sudah dari awal melompat dari kereta Sang Raja dan menyalak bengis kehadapan kawanan anjing tersebut. Begitu salah satu dari kawanan tersebut mencoba menerkam kesalah satu prajurit, seketika Belang Uyang menghadang dan membunuh anjing tersebut. Melihat salah satu kawannya terbunuh, semua kawanan anjing liar tersebut menyerang. Tombak dan panah pun dilempar dan ditembakkan ke arah kawanan anjing. Dilain sisi si Belang Uyang dengan brutal membantai kawanan anjing tersebut sehingga jumlah mereka berkurang drastis. Sisa kawanan anjing lainnya memilih kabur masuk ke dalam hutan. Melihat si Belang Uyang dengan gagahnya menghajar kawanan anjing itu, raja begitu bangga dan dengan gagah memerintahkan pasukannya untuk masuk kedalam hutan untuk memburu hewan seganas apapun di hutan itu.

Sesampai di dalam hutan, raja mengambil busur dan anak panah perlengkapan berburunya. Dan memerintahkan si Belang Uyang untuk mengendus dan melacak hewan buruan. Dari kejauhan terdengarlah auman harimau yang membuat seluruh pasukan kerajaan kaget dan merinding. Seketika si Belang Uyang menyalak dan melompat kearah  semak-semak. Disanalah tampak keluar seekor harimau yang besar dengan mulut menganga yang siap menerkam apa saja. Terlihat harimau tersebut bersama beberapa kawanan anjing liar. Ternyata kawanan anjing tersebut adalah yang menyerang rombongan kerajaan di pinggiran hutan sebelumnya. Raja menerka kawanan anjing tersebutlah yang melapor ke si harimau bahwa akan ada rombongan yang akan masuk hutan. Karena mereka kalah maka mereka mengadu ke si harimau tersebut. Raja juga berpikir ternyata mitos ada seekor harimau yang menguasai hutan tersebut ternyata benar. Raja pun sekarang makin tertantang dengan adanya harimau dihadapannya dan mengarahkan anak panahnya ke arahnya. Begitu Sang Raja melepas anak panahnya, panah tersebut menancap tepat dileher si harimau. Tapi harimau itu tetap berdiri dengan tegap dan mencabut anak panah tersebut dengan cakarnya. Merasa terancam, harimau itu melompat ke arah kereta Sang Raja. Pasukan kerajaan berusaha menghalangi namun tidak bisa melawan keganasan harimau tersebut. Raja melihat beberapa pasukannya terluka parah dan karena merasa ketakutan, raja pun bersiul untuk memanggil si Belang Uyang yang sedang sibuk melawan kawanan anjing liar. Begitu dia melihat celah, si Belang Uyang berlari dan melompat menerkam si harimau. Si harimau meladeni dengan membalas mencakar si Belang Uyang. Terjadilah pertarungan yang begitu sengit antara si Belang Uyang dengan si Harimau.

Dikejauhan diantara semak-semak terlintas ada seekor hewan yang mengintai atau mengintip. Seakan-akan mengintai pertarungan yang sedang terjadi. Sang Raja melihat gerak-gerik hewan tersebut dan mengambil busur lalu melepaskan anak panahnya ke arah hewan tersebut. Kemudian keluarlah hewan tersebut dari persembunyiannya yang ternyata hewan tersebut adalah seekor trenggiling. Sang Raja kecewa karena dikira hewan tersebut adalah seekor hewan yang lebih besar yang setidaknya bisa dibawa pulang dagingnya. Melihat hewan tersebut hanyalah seekor trenggiling, raja membiarkan dan melepasnya karena hewan tersebut tidak ada istimewanya menurutnya.

Disisi lain pertarungan si Belang Uyang dengan si harimau masih berlangsung. Mereka sama imbang dan tubuh mereka sudah banyak luka. Namun si harimau mulai kehabisan tenaga dan berbanding terbalik dengan si Belang Uyang yang masih enerjik dan terlihat masih kokoh untuk berdiri. Melihat si harimau sudah terlihat lemah, raja mengangkat busurnya dan melepaskan anak panahnya tepat ke jantung si harimau. Harimau roboh dan masih berusaha untuk bangun. Si Belang Uyang mencakar leher si harimau dan membuat si harimau tidak bisa bangun lagi. Si harimau pun mati dan Sang Raja bersorak gembira bersama pasukannya. Raja membawa mayat harimau tersebut ke istana kerajaan dan memamerkan ke rakyatnya. Raja berkata hutan yang selama ini dikenal angker dan ditakuti masyarakat telah ditaklukkannya. Dia juga memuji setinggi langit si Belang Uyang yang berperan besar atas kejadian itu. Untuk merayakan kejadian itu, raja mengumumkan untuk merayakan kejadian itu, dia akan mengadakan pesta besar-besaran dan akan mengundang tamu-tamu besar.

Didalam hutan terlihat kawanan anjing liar yang masih tersisa. Mereka sangat sedih kehilangan si harimau yang selama ini melindungi mereka dari para pemburu. Hewan-hewan lainnya menghampiri mereka dan terlihat juga begitu sedih. Karena hutan tempat tinggal mereka selama ini yang aman, sekarang terasa tidak aman lagi setelah kepergian si harimau. Kemudian muncullah si trenggiling yang sempat terlihat saat pertempuran. Trenggiling tersebut bernama “I Klesih”. I Klesih berusaha menenangkan hewan-hewan lainnya. Dia bercerita kalau dia terus memantau saat pertarungan si Belang Uyang dan harimau terjadi. Dia melihat sesuatu yang janggal. Dia melihat saat si harimau mencakar si Belang Uyang, si Belang Uyang seolah-olah tidak merasa kesakitan. Padahal sudah jelas si harimau sempat mencakar dan merobek leher si Belang Uyang. Tapi lehernya terlihat sembuh sendiri. Dia juga melihat kearah manapun di harimau mencakar, belangnya si Belang Uyang terus berpindah-pindah menghindari cakaran si Harimau. I Klesih menerka bahwa belangnya itulah pusat kekuatan sekaligus kelemahan si Belang Uyang. Seakan-akan si Belang Uyang bisa memindahkan belangnya sesuai keinginannya. Disana i Klesih menceritakan dan berniat balas dendam ke si Belang Uyang. Namun hewan lainnya mengabaikannya karena melihat mata si Belang Uyang saja mereka sudah merinding. Apalagi i Klesih hewan yang kecil. Mana bisa dia balas dendam, begitu pikir mereka.

Mendengar hewan-hewan lainnya seperti itu, i Klesih memutuskan untuk pergi sendiri ke istana kerajaan untuk membalas kematian si harimau. Sesampai di istana, Klesih mencari jalan pintas untuk sampai di ruangan Sang Raja dimana si Belang Uyang juga pasti disana. Dan akhirnya i Klesih sampai diatas langit-langit kerajaan untuk memantau keadaan. Sayangnya i Klesih datang pada waktu yang kurang tepat, dia tidak tahu hari itu sedang ada pesta besar-besaran perayaan Sang Raja yang sukses membunuh si harimau yang menguasai hutan yang konon ditakuti oleh masyarakat. I Klesih pun harus menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Dia tetap diam disela langit-langit ruangan itu. Namun sayangnya, si Belang Uyang menyadari sesuatu. Dia mencium bau yang aneh dari langit-langit ruangan itu. Dia menyalak dan menggonggong kearah i Klesih bersembunyi. Raja pun kaget mendengar gonggongan si Belang Uyang. Raja menoleh keatas kearah penglihatan si Belang Uyang. Namun  Raja tidak melihat apapun, mungkin cuma cicak atau tikus, pikir Raja. Karena pesan si Belang Uyang tidak direspon oleh Raja, si Belang Uyang emosi dan makin menyalak ke arah langit-langit memberi tanda ke Raja. Sang Raja kembali menoleh keatas dan tidak terlihat apapun. Karena makin emosi, belang si Belang Uyang pun berpindah ke kepalanya tanpa dia sadar. Karena emosi, belangnya tersebut tepat berada di dahinya. Melihat hal tersebut i Klesih mendapatkan ide. Dia keluar dari persembunyiannya dan merayap disela langit-langit menuju langit-langit ruangan yang tepat berada di atas meja hidangan makanan, tempat para tamu undangan kerajaan menyantap makanannya. Si Belang Uyang pun mengikuti arah kemana i Klesih berlari. Dan sampailah i Klesih berada di langit-langit ruangan tepat diatas meja makan, seketika si Belang Uyang naik ke meja makan tepat saat tamu sedang menikmati hidangan. Para tamu pun seketika kaget sembari mengumpat ke anjing tersebut. Sang Raja merasa malu dan berusaha mengusir si Belang Uyang dari atas meja. Suasana semakin kacau setelah si Belang Uyang melompat-lompat diatas meja melihat ada seekor binatang di langit-langit ruangan. Raja mulai gusar dan marah melihat si Belang Uyang tidak menghiraukan perintahnya. Seketika Raja mengambil sebuah tombak dari prajurit disampingnya dan memukul kepala si Belang Uyang. Si Belang Uyang pun sempoyongan dan terjatuh dari atas meja. Sang Raja merasa kaget dengan tindakannya dan meratapi si Belang Uyang yang lemas lunglai terkapar dilantai. Diangkatlah kepala si Belang Uyang oleh Sang Raja dan melihat bekas pukulannya tepat di belangnya pusat kekuatan dan sekaligus kelemahan si Belang Uyang. Perlahan-lahan nafas si Belang Uyang mulai tersendat dan akhirnya si Belang Uyang mati ditangan majikannya sendiri.

Sambil menyesali perbuatannya, Sang Raja menengok keatas, mencari sebab apa sebenarnya yang diincar oleh si Belang Uyang. Sang Raja melihat seekor trenggiling nyempil diantara langit-langit ruangan. Raja tersadar trenggiling tersebut adalah trenggiling yang sempat dilihat dan hampir dibunuhnya saat di hutan. Seketika dia tersadar akan dosa-dosa yang selama ini diperbuatnya. Tersadar akan kekejaman-kekejaman yang dilakukannya bersama si Belang Uyang. Dimana hewan kesayangannya mati ditangannya sendiri. Raja pun meminta maaf kepada rakyatnya dan juga berjanji tidak akan mengganggu kehidupan hutan lagi.

Disini kita belajar, sekuat apapun kita dan sebesar apapun kekuasaan kita, sudah pasti ada kelemahannya atau sudah pasti ada akhirnya. Walaupun akhir dari semua itu datang tanpa kita duga dan tanpa kita sangka. Maka dari itu, sekuat apapun kita, kita harus bisa rendah diri dan teruslah berbuat baik kepada siapa atau apapun di dunia ini.

Rahayu

nb. Referensi dari cerita kakek saya.

 

TAMAT