Senin, 21 Februari 2022
Gerhana dan Rahu
Jumat, 11 Februari 2022
Narasimha Awatara
Narasimha Awatara adalah inkarnasi atau penjelmaan dari Dewa Wisnu kedunia. Beliau adalah awatara keempat yang turun kedunia dari sepuluh awatara (Dasa Awatara). Sebelumnya ada Waraha Awatara yang turun kedunia untuk menyelamatkan dunia yang tenggelam di lautan kosmik oleh raksasa bernama Hiranyaksa. Dia adalah adik dari Hiranyakasipu yang akan menjadi musuh dari Narasimha Awatara.
Hiranyakasipu adalah seorang raksasa yang memimpin disebuah kerajaan. Dia sangat membenci apapun yang berkaitan dengan Dewa Wisnu. Karena disebabkan adiknya yang bernama Hiranyaksa telah dibunuh oleh Dewa Wisnu yang berwujudkan Waraha Awatara saat itu. Karena dendamnya itu, suatu hari dia memutuskan untuk melakukan tapa brata untuk memohon kekuatan. Dia memfokuskan pikirannya ke Dewa Brahma untuk memohon kekuatan.
Di lain sisi istri dari Hiranyakasipu yang bernama Lilawati tidak tahan dengan tingkah suaminya tersebut. Karena terlalu membenci Dewa Wisnu. Penderitaan Lilawati dilihat oleh Dewa Narada dan segera beliau membujuk Lilawati untuk meninggalkan kerajaan agar tidak selalu menjadi pelampiasan kemarahan dari Hiranyakasipu. Dewa Narada pun membawa Lilawati pergi dari kerajaan karena melihat Lilawati saat itu juga sedang mengandung. Dewa Narada menekankan agar Lilawati untuk selalu memuja Dewa Wisnu karena beliau adalah Dewa pelindung dunia. Agar dia selalu mendapat perlindungan dari Dewa Wisnu. Kelak saat anaknya lahir juga selalu mendapat perlindungan-Nya.
Tahun ke tahun silih berganti. Karena tekad dari Hiranyakasipu begitu kuat, muncullah Dewa Brahma dihadapannya. Dewa Brahma menyapa dan meminta Hiranyakasipu untuk menghentikan tapa bratanya karena Dewa Brahma telah luluh akan tekadnya itu. Dewa Brahma pun meminta Hiranyakasipu untuk mengutarakan permohonannya. Hiranyakasipu meminta agar diberikan kehidupan abadi. Namun Dewa Brahma tidak bisa mengabulkannya. Dewa Brahma meminta agar Hiranyakasipu untuk meminta permohonan yang lain. Karena kehidupan abadi tidak bisa dikabulkan, Hiranyakasipu pun memilih agar dirinya tidak bisa dibunuh oleh dewa, asura/raksasa, manusia dan binatang. Dia juga meminta tidak bisa terbunuh oleh segala senjata. Tidak terbunuh dipagi, siang dan malam hari, tidak terbunuh diluar ataupun didalam ruangan. Dan tidak bisa terbunuh di udara, air maupun diatas tanah. Dia berpikir dengan permintaan seperti itu juga sama dengan artinya dengan tidak bisa terbunuh sedikitpun alias hidup abadi. Dewa Brahma pun mengabulkan permohonannya itu.
Ditempat Dewa Narada, istri dari Hiranyakasipu telah melahirkan seorang anak bernama Pralahda. Dia tumbuh besar dan diajarkan segala ilmu kebaikan terutama selalu memuja Dewa Wisnu. Dia selalu menyanyikan dan melantunkan mantram-mantram pemujaan Dewa Wisnu.
Hiranyakasipu yang tahu istrinya dibawa oleh Dewa Narada akhirnya menjemputnya untuk dibawa kembali ke kerajaan. Dia amat sangat marah mengetahui istri dan anaknya malah menjadi pemuja Dewa Wisnu. Hiranyakasipu berusaha membujuk anaknya untuk meninggalkan ajaran-ajaran tentang Dewa Wisnu. Namun anaknya yaitu Pralahda selalu membantahnya dan selalu menyenandungkan mantram-mantram Dewa Wisnu.
Semakin hari Hiranyakasipu selalu mencari cara agar Pralahda segera melupakan Dewa Wisnu. Sering kali Pralahda dihukum olehnya. Namun hukumannya selalu gagal karena disekililing Pralahda seakan-akan ada pelindung yang melindunginya. Setiap kali Pralahda dihukum, dia juga selalu menyenandungkan mantram-mantram Dewa Wisnu sehingga Hiranyakasipu semakin marah. Karena amarahnya sudah tidak terkendali, Hiranyakasipu pun menantang Pralahda untuk menunjukkan dimana Dewa Wisnu dan menyuruh Pralahda membawa Dewa Wisnu kehadapannya. Pralahda menjawab bahwa Dewa Wisnu itu tidak perlu dicari, karena beliau berada dimana-mana.
Mendengar anaknya berkata seperti itu Hiranyakasipu semakin marah dan memukul salah satu pilar istana kerajaan sampai hancur. Disalah tiba-tiba muncul sosok Dewa Wisnu dengan wajah murka. Dewa Wisnu murka karena selama ini Hiranyakasipu telah sewenang-wenang terhadap Pralahda yang begitu taat memujanya. Melihat Dewa Wisnu yang murka Hiranyakasipu menantang beliau karena merasa dirinya tidak bisa terbunuh sekalipun harus berhadapan dengan seorang Dewa. Dewa Wisnu seketika merubah diri-Nya menjadi manusia yang berkepala singa lengkap dengan cakar-cakarnya yang begitu tajam. Beliau saat itu menyebut diri-Nya Narasimha Awatara. Melihat wujud Dewa Wisnu yang menyeramkan Hiranyakasipu berlari keluar dari istana. Namun tepat diambang pintu istana Narasimha menangkapnya dan manaruh Hiranyakasipu dipangkuannya. Dengan cakar-cakar kukunya, Narasimha merobek perut Hiranyakasipu diatas pangkuannya tepat saat disenja kala. Akhirnya Hiranyakasipu tewas diatas pangkuan Narasimha yang berwujud manusia berkepala singa dengan cakar-cakarnya.
Begitulah akhir hidup dari Raksasa Hiranyakasipu. Walaupun dia mendapat anugrah tidak akan mati oleh dewa, raksasa, manusia dan binatang, namun dia mati karena wujud dari Dewa Wisnu yang merubah dirinya menjadi manusia berkepala singa. Tidak bisa terbunuh oleh senjata apapun, namun mati karena cakar atau kuku. Tidak bisa terbunuh dipagi, siang maupun malam tapi mati disenja hari. Tidak bisa terbunuh di luar atau dalam ruangan namun mati diambang pintu istana. Tidak bisa terbunuh di udara, air dan tanah namun mati diatas pangkuan Sang Narasimha.
Narasimha awatara yang telah memlenyapkan Hiranyakasipu tidak surut kemarahannya sampai disitu. Karena amarahnya yang terlanjur membara, beliau mengamuk keseluruh penjuru alam semesta dan mengancam kehidupan semua makhluk hidup. Dewa Siwa yang melihat sahabatnya tersebut mengamuk turun ke dunia untuk menemui-Nya. Namun Narasimha Awatara terlanjur tidak terkendali dan malah menyerang Dewa Siwa. Dewa Siwa yang berusaha menghindar kemudian merubah wujudnya menjadi manusia bertubuh singa dan bersayapkan burung yang disebut dengan Sarabha Awatara. Beliau Sarabha Awatara berusaha menenangkan Dewa Wisnu yang masih berwujudkan Narasimha Awatara.
Dilain sisi, karena tewasnya Hiranyakasipu, maka diangkatlah Pralahda menjadi Sang Raja kerajaan. Dia memimpin kerajaannya dengan baik dan membawa rakyatnya ke kehidupan yang lebih sejahtera untuk menebus kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan oleh ayahnya.
Kamis, 03 Februari 2022
Pan Balang Tamak
Sabtu, 22 Januari 2022
Si Ayam dan Si Itik
Diceritakan di sebuah hutan hiduplah seekor ayam dan itik. Mereka bersahabat dari kecil dan sudah seperti saudara. Apapun keperluannya, mereka selalu pergi berdua.
Suatu ketika saat menjelang senja, mereka sedang makan dan saling bercekerama. Saat matahari mulai tenggelam, si ayam mau kembali ke rumahnya. Dengan alasan saat senja, maka penglihatan matanya akan sedikit kabur. Namun si itik mencegahnya, dengan membilang nanti dia lah yang akan mengantarnya pulang. Karena si itik masih ingin bercengkerama sambil menghabiskan senja. Si ayam akhirnya membatalkan niatnya untuk pulang lebih awal dan memutuskan menemani sahabatnya itu. Si itik kemudian kepikiran kenapa kalau senja hari penglihatan si ayam menjadi kabur atau rabun. Si ayam menjawab bahwa mungkin itu memang kekurangan yang diberikan oleh sang Pencipta. Namun si ayam mengatakan selain kekurangan itu, disisi lain dia mempunyai kelebihan yaitu dia mempunyai selaput dikaki beserta tanduk dikaki. Dia mengatakan dia bisa berenang di air dengan selaput kakinya itu dan juga bisa melawan musuh dengan tanduk dikakinya. Si ayam juga mengatakan dia diberi satu kekurangan, namun dia juga punya dua kelebihan.
Si itik melihat ke sekeliling kakinya, dia tidaklah punya selaput dan tanduk seperti si ayam. Dia pun menggerutu kenapa sang Pencipta tidak memberikan kelebihan kepadanya. Si ayam pun tertawa, dan membilang walaupun si itik tidak mempunyai selaput dan tanduk dikaki, bukankah dia juga tidak mempunyai kekurangan seperti rabun seperti dirinya. Bahkan si itik mempunyai kelebihan pada paruhnya. Dimana paruhnya bisa membedakan makanan yang ada didalam lumpur. Mereka pun akhirnya tertawa dan si itik berlagak sombong kalau dirinya punya kelebihan tanpa kekurangan.
Hari sudah mulai malam, mereka pun akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Seperti janjinya, si itik akhirnya mengantar si ayam sampai di rumahnya. Mereka pun akhirnya berpisah dan menuju rumah masing-masing. Di malam itu, si itik sampai di rumahnya sembari merenungkan obrolannya dengan si ayam tadi. Dia kembali berpikir, kenapa dia tidak punya selaput dan tanduk seperti di kaki si ayam. Bagaimana seandainya jika ada hewan lain yang memburunya, bagaimana dia bisa melawan hewan tanpa senjata seperti tanduk. Bagaimana kalau terjadi banjir, bagaimana dia bisa lolos dari banjir sedangkan dia tidak punya selaput kaki untuk berenang. Pikiran si itik menjadi kemana-mana malam itu.
Saat pagi tiba, mereka kembali bertemu. Mereka berencana mau ketepian sungai untuk mencari minum sambil membersihkan diri mereka. Sesampai di tepian sungai, tiba-tiba terdengar suara mendengus. Seketika si ayam dan si itik kaget dan melompat ke sungai karena ada seekor musang menerkam ke arah mereka. Si ayam berenang di sungai namun si itik terbawa arus sungai karena tidak bisa berenang. Si ayam pun segera berenang ke arah si itik untuk menyelamatkannya. Akhirnya si itik berhasil diselamatkan oleh si ayam. Mereka pun menepi ke sisi sungai seberang untuk menjauh dari kejaran si musang. Si ayam kemudian berusaha menakut-nakuti si musang dengan memamerkan tanduk dikakinya sembari mengambil ancang-ancang untuk segera melompat. Karena ancaman si ayam itu, akhirnya si musang kabur ke dalam hutan.
Si itik akhirnya merasa lega karena si musang sudah pergi. Sembari mengucapkan terima kasih kepada si ayam. Si ayam pun membalasnya sembari menenangkan sahabatnya itu. Si itik merenung seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki, pasti dia bisa melawan si musang itu. Si ayam melihat si itik termenung dan menerka pikiran sahabatnya itu. Si ayam membilang tidak usah berpikir seandainya dia punya selaput dan tanduk dikaki. Si ayam pun menjamin akan melindungi si itik apapun terjadi. Si itik tersenyum lega, namun si itik mempunyai niatan lagi. Si itik berniat meminjam selaput dan tanduk kaki si ayam. Agar dia bisa merasakan bagaimana rasanya mempunyai kedua benda tersebut. Si ayam merasa ragu akan permintaan si itik. Si itik pun merayu dan berjanji dia hanya meminjam sebentar dan akan langsung mengembalikan setelah dia merasakan bagaimana rasa mempunyai selaput dan tanduk kaki. Si ayam akhirnya mengikuti keinginan sahabatnya itu, tapi hanya meminjamkan selaput kaki saja, karena dia sulit melepaskan tanduk dikakinya itu.
Berhasillah si itik meminjam selaput kaki si ayam. Dengan kegirangan si itik melompat ke sungai dengan riang. Sambil bersorak-sorak dia makin kearah tengah bagian sungai. Si ayam pun memperingatinya agar segera mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik bilang lagi sebentar. Hari semakin sore si itik malah berenang makin jauh. Si ayam mengejarnya dari tepi sungai sembari menyuruh si itik mengembalikan selaput kaki miliknya. Namun si itik tetap cuek dan mengacuhkan si ayam. Disanalah si ayam mulai kesal dan geram. Si ayam mengancam jika si itik tidak mengembalikan selaput kakinya, maka si ayam akan mengutuk si itik agar keturunannya nanti akan selalu mengejar keturunan si itik untuk menagih selaput kaki miliknya.
Nb. Nah, demikianlah dongeng antara si ayam dan si itik. Sampai saat ini pun jika kita melihat ayam bertemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar-ngejar si itik. Begitulah cocokologi yang tepat antara cerita diatas dengan fakta sebenarnya. Cerita ini hanya dongeng belaka, yang saya sempat karang waktu saya masih SD karena melihat setiap ada ayam ketemu dengan itik, si ayam pasti akan mengejar itik tersebut.
Minggu, 16 Januari 2022
Padanda Baka
Diceritakan ada sebuah kolam di suatu desa. Kolam tersebut sangat luas dan asri. Dihuni beraneka ragam ikan dan sejenisnya. Kolam tersebut dikenal bernama kolam Kumudana.
Suatu ketika ada seekor burung
bangau melintas terbang diatas kolam tersebut. Burung bangau itu memakai
pakaian atau jubah seperti Pedanda (Pendeta dalam Ajaran Hindu). Sekilas dia
melihat ada banyak ikan di kolam tersebut. Melihat ada ikan disana, si Bangau
pun turun dan hinggap di sebuah batu. Seketika ikan-ikan kabur menyelam ke
kedalaman karena takut dimangsa oleh bangau itu.
Si bangau kemudian berkata bahwa
dia tidaklah ingin memangsa ikan-ikan tersebut. Dia bercerita dia bukanlah
bangau biasa. Bisa dilihat dari jubah yang dipakainya. Dia mengatakan bahwa dia
adalah seorang pendeta. Pendeta tidaklah akan memakan ikan karena itu
bertentangan dengan ajarannya. Melihat si bangau berkata seperti itu, para ikan
pun muncul ke permukaan kolam karena tertarik mendengar cerita si bangau.
Si bangau melanjutkan ceritanya,
dia menjadi pendeta karena dulu dia pernah sakit. Setelah dia mencari penyebab
penyakitnya, muncullah wahyu dari Tuhan bahwa sakitnya karena dia selalu
memangsa ikan. Kemudian berhentilah dia memangsa ikan dan jadilah dia orang
suci atau pendeta. Para ikan dan penghuni kolam lainnya terkesima dengan cerita
si bangau. Dan percaya bahwa si bangau itu bukanlah seperti bangau lainnya.
Setelah bercerita, pergilah si bangau dari kolam tersebut dan membilang ke para
ikan-ikat tersebut dia mau menyebarkan ajaran-ajaran kebaikan.
Keesokan harinya, si bangau
kembali datang ke kolam tersebut dan para ikan pun menyambutnya berharap
diceritakan ajaran-ajaran kebaikan. Namun wajah si bangau terlihat pucat. Si
ikan pun menanyakan ada apa gerangan. Si bangau bercerita bahwa baru saja dia
mendengar percakapan dua orang manusia. Katanya lagi seminggu, mereka akan
menguras air kolam tersebut dan menangkap semua ikan-ikan yang ada. Para ikan
pun kaget mendengar ucapan si bangau dan belum sepenuhnya percaya. Kemudian si
bangau meyakinkan para ikan bahwa ajaran dan ucapan pendeta tidaklah boleh
berbohong. Karena bertentangan dengan kebaikan. Para ikan pun percaya dan memohon
jalan keluar agar mereka tetap hidup. Si bangau pun menenangkan para ikan dan berjanji akan menolong mereka. Si
bangau pun pergi sembari bilang akan datang lagi untuk membawa solusi.
Seiring berjalannya waktu, si
bangau datang lagi ke kolam Kumudana. Dia disambut penuh harapan oleh para
ikan. Si bangau berkata ada sebuah kolam yang begitu luas dan asri dekat
pegunungan. Tidak kalah asri dengan kolam Kumudana. Dia berencana akan membawa
ikan tersebut satu-persatu ke kolam tersebut. Para ikan pun merasa lega dan
bersyukur. Si bangau berjanji mulai keesokan harinya dia akan memindahkan para
ikan satu-persatu.
Tibalah hari dimana si bangau
akan memindahkan ikan-ikan tersebut. Para ikan tidak sabar dan berebutan
meminta paling pertama. Dan disela-sela itu, ada seekor kepiting juga meminta
agar dipindahkan paling pertama. Si bangau meminta agar si kepiting agar
diangkut paling terakhir saja. Si bangau beralasan bahwa si manusia pasti akan
menangkap para ikan terlebih dahulu dan si kepiting juga masih bisa bersembunyi
didalam tanah. Diangkutlah satu persatu ikan tersebut oleh si bangau dengan
memakai paruhnya dan terbang menuju kolam yang baru.
Kemudian tibalah giliran si kepiting
untuk diangkut. Seperti sebelumnya si bangau memakai paruhnya untuk membawa si
kepiting. Namun si kepiting terus terlepas karena tubuhnya yang keras. Si
bangau menyarankan agar si kepiting memeluk leher dirinya yang panjang saja
agar tidak terjatuh. Si kepiting pun melingkarkan kedua capitnya keleher si
Bangau. Kemudian terbanglah mereka menuju kolam yang dituju.
Diperjalanan, dari udara si
kepiting iseng menoleh kebawah. Si kepiting kaget melihat banyak tulang ikan
berserakan didaratan. Si kepiting mulai curiga akan tingkah laku si bangau. Dia
curiga bahwa si bangau tidaklah memindahkan para ikan melainkan memangsanya.
Berarti selama ini apa yang diceritakan si bangau tidaklah benar. Dia memakai
pakaian pendeta hanyalah untuk menipu para ikan agar percaya bahwa dia adalah
orang suci. Karena merasa kesal karena telah ditipu, si kepiting pun tiba-tiba
mencapit leher si bangau dan menanyakan kemana ikan-ikan tersebut dibawa. Si
bangau mengerang kesakitan sembari membilang bahwa para ikan telah sampai di
kolam didekat pegunungan. Namun si kepiting tidak percaya dan mencapit lebih
keras sembari bertanya kenapa dibawah banyak sekali tulang-tulang ikan. Si
bangau kembali berkelit bahwa itu tulang-tulang ikan lain yang dimangsa oleh
bangau lain. Si kepiting tetap tidak
percaya karena tulang-tulang tersebut terlihat masih baru seperti ikan yang baru
saja dimakan. Si kepiting mencapit leher si bangau lebih keras dan menyuruhnya mendarat.
Si bangau pun menurutinya sembari meringis kesakitan. Si kepiting meminta agar
si bangau jujur saja daripada lehernya putus. Si bangau pun mengaku bahwa dia
telah memangsa semua ikan dan kolam yang dijanjikannya hanya sebuah kebohongan.
Dia pun mengaku dia bukanlah pendeta. Jubah yang dipakainya hanyalah kedok agar
dia bisa dipercaya oleh siapapun. Si kepiting kemudian mencapit leher si bangau
sampai putus karena merasa kesal. Si bangau pun akhirnya mati ditangan si
kepiting.
Di Bali khususnya di Agama Hindu
bangau tersebut disebut Padanda Baka. Bisa diartikan pendeta pembohong atau
dusta. Ini sering diceritakan turun-temurun oleh para tetua di Bali
kecucu-cucunya. Agar kita tidak mudah percaya kepada orang yang terlihat baik
atau terlihat suci. Karena kadang-kadang pakaian bisa menipu kita. Dengan kedok
yang terlihat suci, bisa saja dipakai untuk menipu dan mempermainkan orang.
Begitulah kira-kira pelajaran yang bisa dipetik dari cerita dongeng diatas.
Salam Rahayu.
Nb. Referensi dari cerita kakek saya.
Sabtu, 15 Januari 2022
Mitos-mitos Orang Jaman Dulu di Bali
Masa-masa kecil saya tinggal di sebuah desa bernama desa Laplapan yang berada di daerah kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Masa itu saya lebih sering berinteraksi bersama nenek dan kakek saya. Karena kedua orang tua saya sehari-harinya bekerja. Pada masa itu sering saya dapat nasehat-nasehat dari nenek maupun kakek saya. Termasuk larangan-larangan yang kurang bisa dicerna atau bisa disebut mitos. Seperti kebanyakan orang tua jaman dulu sering kali mitos ini diutarakan tanpa alasan yang jelas, lebih sering kita diberi alasan berupa kalimat “mule keto” atau memang seperti itu.
1. Tidak boleh duduk diatas talenan, katanya nanti pantatnya bisa sebesar talenan. Talenan biasanya digunakan untuk alas memotong bahan-bahan masakan didapur. Untuk alas memotong daging, sayur maupun bumbu-bumbu masakan. Tidak ada relevansinya kalau kita duduk diatas talenan maka pantat bisa sebesar talenan. Padahal logikanya, talenan bukanlah alat untuk diduduki. Jika pun kita duduk diatas talenan, itu sangatlah bisa berbahaya, karena sering kali talenan digunakan untuk alas memotong bumbu-bumbu masakan, maka pantat kita bisa nyeri atau panas karena bekas bumbu-bumbu dapur.
2. Tidak boleh duduk diatas bantal tidur, nanti bisa bisul. Bisul adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada kulit yang menyebabkan permukaan kulit bengkak dan biasa muncul diarea dubur. Ini juga tidak ada korelasinya antara bantal dan bisul. Ini sebanarnya masalah etika saja. Bantal tidur yang seharusnya diperuntukan untuk alas kepala saat tidur, sudah pasti tidak etis untuk diduduki.
3. Orang hamil tidak boleh duduk diambang pintu, nanti anaknya sulit lahir. Kalau sulit lahir, bukankah sekarang ada yang namanya operasi caesar (hehehe). Orang biasa yang duduk diambang pintu juga sebenarnya kalau bisa janganlah duduk diambang pintu, karena akan menghalangi orang yang mau lewat. Apalagi orang yang sedang hamil, ya kan.
4. Jangan duduk dibawah pohon dimalam hari, nanti diculik kuntilanak. Siapa juga ingin duduk-duduk dibawah pohon dimalam hari, sudah dingin bisa digerayangi nyamuk juga. Selain itu juga ada jawaban yang lebih alamiah. Yaitu karena tumbuhan pada malam hari akan menghisap oksigen juga seperti manusia. Beda kalau saat siang hari dimana tumbuhan akan menghisap karbon dioksida. Maka dari itu saat kita duduk dibawah pohon dimalam hari, akan terjadi perebutan oksigen secara tidak langsung. Yang menyebabkan sistem pernafasan kita jadi kurang normal.
5. Kalau makan jangan sampai sisa, nanti ayamnya mati. Padahal kalau sisa, makanannya bisa dikasi ayam dan tidak mungkin matilah secara logika. Ini lebih menekankan janganlah menyisakan makanan saat makan karena kita harus lebih menghargai makanan atau rejeki.
6. Tidak boleh potong kuku dimalam hari, nanti bisa putus dengan orang tua. Lagi-lagi tidak ada relevansinya. Padahal alasannya jika potong kuku dimalam hari itu terlalu bahaya, karena kurang optimalnya cahaya dimalam hari walaupun ada lampu, maka bisa saja akan melukai jari kita.
7. Tidak boleh duduk diatas lesung, nanti pantat bisa sebesar lesung. Ini sama sih dengan poin nomor satu penjelasannya. Lesung adalah alat atau media yang digunakan untuk menumbuk padi untuk mejadi beras, juga kadang-kadang digunakan untuk menumbuk kopi bahkan lesung yang kecil dipakai juga untuk menumbuk bumbu-bumbu masakan.
8. Tidak boleh meludah keorang lain, nanti bisa tumbuh kutil. Meludah ke orang memang tidak boleh sih karena tidak sopan sama sekali tanpa harus diancam-ancam bisa tumbuh kutil.
9. Tidak boleh menanam tanaman obat, nanti bisa ada keluarga yang sakit. Mungkin maksudnya jika kita menanam tanaman obat, bisa saja kita tersugesti bahwa suatu saat kita pasti akan sakit. Padahal jika kita menanam tanaman obat itu bagus, apalagi kalau tahu penggunaannya. Semisal kita menanam jahe atau ginseng. Itu bagus untuk ramuan minuman untuk sehari-hari.
10. Kalau membaca suatu bacaan, tidak boleh setengah-setengah, nanti ilmu pengetahuan kita bisa hilang. Disini maksudnya jangan membaca sesuatu itu tidak sampai selesai, nanti isi dari bacaan tersebut cuma setengah yang kita serap. Dan bisa saja kita sampaikan ke orang lain menjadi tidak jelas dan mengaburkan maksud dari bacaan tersebut.
Demikianlah mitos-mitos yang sering saya dengar dari tetua-tetua kita di Bali. Maksud mereka sebernarnya baik untuk kita. Agar kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dan berguna bagi kehidupan kita. Namun jika dicerna, alasan-alasan yang mereka berikan memang kadang tidak masuk akal dan menggelitik. Namun bagaimana pun, maksud dan tujuannya adalah untuk kebaikan kita sebagai penerus mereka. Mungkin ada mitos-mitos lain dari pembaca, silahkan ditambahkan dikolom komentar.
Terima Kasih.
Sabtu, 08 Januari 2022
Belang Uyang
Diceritakan ada sebuah kerajaan yang maha besar di sebuah negeri. Sang Raja yang memimpin kerajaan tersebut dikenal bertangan besi atau kejam dikepemimpinannya. Rakyatnya cuma diperalat dengan menarik begitu banyak upeti disetiap usaha mereka. Banyak cara yang dilakukan untuk mengkudeta Sang Raja. Namun tidak pernah berhasil malah mereka dihukum mati bagi siapapun berani melawan Sang raja. Dibalik kekejamannya, Sang Raja memelihara seekor anjing. Konon katanya anjing inilah jadi jimat keberuntungan Sang Raja. Dimana anjing inilah yang selalu pertama mengendus jika Sang Raja dalam keadaan bahaya. Anjing ini diberi nama Si Belang Uyang.
Belang Uyang adalah anjing yang
berbadan tinggi tegap, berwarna hitam dengan taring yang selalu keluar dari
mulutnya. Air liurnya selalu menetes dari sela-sela taringnya. Siapa pun
melihat anjing ini pasti seketika merasa ketakutan. Belang Uyang mempunyai
ciri-ciri yang begitu khas. Yaitu warna belang putih di tubuhnya yang konon
bisa berpindah-pindah posisinya. Dari sanalah namanya berasal, Belang yang
mencirikan ada corak warna lain ditubuhnya, dan Uyang dalam Bahasa Bali berarti
berpindah-pindah tempat.
Belang Uyang ini selalu berada
disisi raja. Kemana pun raja berpergian dia selalu ikut seperti menteri-menteri
raja lainnya. Disuatu hari raja ingin berburu ke sebuah hutan. Namun hutan
tersebut dikenal sangat berbahaya. Konon katanya hutan tersebut dihuni oleh
seekor harimau yang begitu ganas. Bahkan sering ada pemburu yang hilang di
hutan tersebut yang katanya pasti dimakan oleh si harimau tersebut. Bahkan
penduduk sekitar meyakini harimau itu adalah raja dari hutan tersebut. Para
menteri raja sudah memperingatkan bahwa hutan tersebut sangat berbahaya. Namun
raja malah merasa tertantang. Apalagi ada si Belang Uyang yang selalu ada
disampingnya. Dimana raja selalu percaya kepada jimat keberuntungannya
tersebut. Melihat raja terlalu percaya diri, ada seorang menteri memperingatkan
sekali lagi karena takut akan keselamatan raja. Tiba-tiba si Belang Uyang
mengeram bengis ke menteri itu seakan-akan menyuruh diam. Menteri pun ketakutan
dan langsung terdiam.
Disuatu pagi berangkatlah raja
beserta beberapa pasukan kerajaan dan tentu saja bersama si Belang Uyang juga. Sesampai
di depan hutan mereka dihadang oleh sekawanan anjing liar. Seolah-olah kawanan
anjing tersebut mencegah rombongan kerajaan untuk masuk hutan. Sang Raja
menyuruh pasukannya untuk siaga kalau kawanan anjing tersebut menyerang. Semua
pasukan mengarahkan senjatanya ke arah kawanan anjing liar tersebut. Begitu pun
si Belang Uyang, sudah dari awal melompat dari kereta Sang Raja dan menyalak
bengis kehadapan kawanan anjing tersebut. Begitu salah satu dari kawanan
tersebut mencoba menerkam kesalah satu prajurit, seketika Belang Uyang
menghadang dan membunuh anjing tersebut. Melihat salah satu kawannya terbunuh,
semua kawanan anjing liar tersebut menyerang. Tombak dan panah pun dilempar dan
ditembakkan ke arah kawanan anjing. Dilain sisi si Belang Uyang dengan brutal
membantai kawanan anjing tersebut sehingga jumlah mereka berkurang drastis.
Sisa kawanan anjing lainnya memilih kabur masuk ke dalam hutan. Melihat si
Belang Uyang dengan gagahnya menghajar kawanan anjing itu, raja begitu bangga
dan dengan gagah memerintahkan pasukannya untuk masuk kedalam hutan untuk
memburu hewan seganas apapun di hutan itu.
Sesampai di dalam hutan, raja
mengambil busur dan anak panah perlengkapan berburunya. Dan memerintahkan si
Belang Uyang untuk mengendus dan melacak hewan buruan. Dari kejauhan
terdengarlah auman harimau yang membuat seluruh pasukan kerajaan kaget dan
merinding. Seketika si Belang Uyang menyalak dan melompat kearah semak-semak. Disanalah tampak keluar seekor
harimau yang besar dengan mulut menganga yang siap menerkam apa saja. Terlihat
harimau tersebut bersama beberapa kawanan anjing liar. Ternyata kawanan anjing
tersebut adalah yang menyerang rombongan kerajaan di pinggiran hutan
sebelumnya. Raja menerka kawanan anjing tersebutlah yang melapor ke si harimau
bahwa akan ada rombongan yang akan masuk hutan. Karena mereka kalah maka mereka
mengadu ke si harimau tersebut. Raja juga berpikir ternyata mitos ada seekor
harimau yang menguasai hutan tersebut ternyata benar. Raja pun sekarang makin
tertantang dengan adanya harimau dihadapannya dan mengarahkan anak panahnya ke
arahnya. Begitu Sang Raja melepas anak panahnya, panah tersebut menancap tepat
dileher si harimau. Tapi harimau itu tetap berdiri dengan tegap dan mencabut
anak panah tersebut dengan cakarnya. Merasa terancam, harimau itu melompat ke
arah kereta Sang Raja. Pasukan kerajaan berusaha menghalangi namun tidak bisa
melawan keganasan harimau tersebut. Raja melihat beberapa pasukannya terluka
parah dan karena merasa ketakutan, raja pun bersiul untuk memanggil si Belang
Uyang yang sedang sibuk melawan kawanan anjing liar. Begitu dia melihat celah,
si Belang Uyang berlari dan melompat menerkam si harimau. Si harimau meladeni
dengan membalas mencakar si Belang Uyang. Terjadilah pertarungan yang begitu
sengit antara si Belang Uyang dengan si Harimau.
Dikejauhan diantara semak-semak
terlintas ada seekor hewan yang mengintai atau mengintip. Seakan-akan mengintai
pertarungan yang sedang terjadi. Sang Raja melihat gerak-gerik hewan tersebut
dan mengambil busur lalu melepaskan anak panahnya ke arah hewan tersebut. Kemudian
keluarlah hewan tersebut dari persembunyiannya yang ternyata hewan tersebut
adalah seekor trenggiling. Sang Raja kecewa karena dikira hewan tersebut adalah
seekor hewan yang lebih besar yang setidaknya bisa dibawa pulang dagingnya.
Melihat hewan tersebut hanyalah seekor trenggiling, raja membiarkan dan
melepasnya karena hewan tersebut tidak ada istimewanya menurutnya.
Disisi lain pertarungan si Belang
Uyang dengan si harimau masih berlangsung. Mereka sama imbang dan tubuh mereka
sudah banyak luka. Namun si harimau mulai kehabisan tenaga dan berbanding
terbalik dengan si Belang Uyang yang masih enerjik dan terlihat masih kokoh
untuk berdiri. Melihat si harimau sudah terlihat lemah, raja mengangkat
busurnya dan melepaskan anak panahnya tepat ke jantung si harimau. Harimau
roboh dan masih berusaha untuk bangun. Si Belang Uyang mencakar leher si
harimau dan membuat si harimau tidak bisa bangun lagi. Si harimau pun mati dan
Sang Raja bersorak gembira bersama pasukannya. Raja membawa mayat harimau
tersebut ke istana kerajaan dan memamerkan ke rakyatnya. Raja berkata hutan
yang selama ini dikenal angker dan ditakuti masyarakat telah ditaklukkannya. Dia
juga memuji setinggi langit si Belang Uyang yang berperan besar atas kejadian
itu. Untuk merayakan kejadian itu, raja mengumumkan untuk merayakan kejadian
itu, dia akan mengadakan pesta besar-besaran dan akan mengundang tamu-tamu
besar.
Didalam hutan terlihat kawanan
anjing liar yang masih tersisa. Mereka sangat sedih kehilangan si harimau yang
selama ini melindungi mereka dari para pemburu. Hewan-hewan lainnya menghampiri
mereka dan terlihat juga begitu sedih. Karena hutan tempat tinggal mereka
selama ini yang aman, sekarang terasa tidak aman lagi setelah kepergian si
harimau. Kemudian muncullah si trenggiling yang sempat terlihat saat
pertempuran. Trenggiling tersebut bernama “I Klesih”. I Klesih berusaha
menenangkan hewan-hewan lainnya. Dia bercerita kalau dia terus memantau saat
pertarungan si Belang Uyang dan harimau terjadi. Dia melihat sesuatu yang
janggal. Dia melihat saat si harimau mencakar si Belang Uyang, si Belang Uyang
seolah-olah tidak merasa kesakitan. Padahal sudah jelas si harimau sempat
mencakar dan merobek leher si Belang Uyang. Tapi lehernya terlihat sembuh
sendiri. Dia juga melihat kearah manapun di harimau mencakar, belangnya si
Belang Uyang terus berpindah-pindah menghindari cakaran si Harimau. I Klesih
menerka bahwa belangnya itulah pusat kekuatan sekaligus kelemahan si Belang
Uyang. Seakan-akan si Belang Uyang bisa memindahkan belangnya sesuai
keinginannya. Disana i Klesih menceritakan dan berniat balas dendam ke si
Belang Uyang. Namun hewan lainnya mengabaikannya karena melihat mata si Belang
Uyang saja mereka sudah merinding. Apalagi i Klesih hewan yang kecil. Mana bisa
dia balas dendam, begitu pikir mereka.
Mendengar hewan-hewan lainnya
seperti itu, i Klesih memutuskan untuk pergi sendiri ke istana kerajaan untuk
membalas kematian si harimau. Sesampai di istana, Klesih mencari jalan pintas
untuk sampai di ruangan Sang Raja dimana si Belang Uyang juga pasti disana. Dan
akhirnya i Klesih sampai diatas langit-langit kerajaan untuk memantau keadaan.
Sayangnya i Klesih datang pada waktu yang kurang tepat, dia tidak tahu hari itu
sedang ada pesta besar-besaran perayaan Sang Raja yang sukses membunuh si
harimau yang menguasai hutan yang konon ditakuti oleh masyarakat. I Klesih pun
harus menunggu saat yang tepat untuk beraksi. Dia tetap diam disela
langit-langit ruangan itu. Namun sayangnya, si Belang Uyang menyadari sesuatu.
Dia mencium bau yang aneh dari langit-langit ruangan itu. Dia menyalak dan
menggonggong kearah i Klesih bersembunyi. Raja pun kaget mendengar gonggongan
si Belang Uyang. Raja menoleh keatas kearah penglihatan si Belang Uyang. Namun Raja tidak melihat apapun, mungkin cuma cicak
atau tikus, pikir Raja. Karena pesan si Belang Uyang tidak direspon oleh Raja,
si Belang Uyang emosi dan makin menyalak ke arah langit-langit memberi tanda ke
Raja. Sang Raja kembali menoleh keatas dan tidak terlihat apapun. Karena makin
emosi, belang si Belang Uyang pun berpindah ke kepalanya tanpa dia sadar.
Karena emosi, belangnya tersebut tepat berada di dahinya. Melihat hal tersebut i
Klesih mendapatkan ide. Dia keluar dari persembunyiannya dan merayap disela
langit-langit menuju langit-langit ruangan yang tepat berada di atas meja
hidangan makanan, tempat para tamu undangan kerajaan menyantap makanannya. Si
Belang Uyang pun mengikuti arah kemana i Klesih berlari. Dan sampailah i Klesih
berada di langit-langit ruangan tepat diatas meja makan, seketika si Belang
Uyang naik ke meja makan tepat saat tamu sedang menikmati hidangan. Para tamu
pun seketika kaget sembari mengumpat ke anjing tersebut. Sang Raja merasa malu
dan berusaha mengusir si Belang Uyang dari atas meja. Suasana semakin kacau
setelah si Belang Uyang melompat-lompat diatas meja melihat ada seekor binatang
di langit-langit ruangan. Raja mulai gusar dan marah melihat si Belang Uyang
tidak menghiraukan perintahnya. Seketika Raja mengambil sebuah tombak dari
prajurit disampingnya dan memukul kepala si Belang Uyang. Si Belang Uyang pun
sempoyongan dan terjatuh dari atas meja. Sang Raja merasa kaget dengan
tindakannya dan meratapi si Belang Uyang yang lemas lunglai terkapar dilantai.
Diangkatlah kepala si Belang Uyang oleh Sang Raja dan melihat bekas pukulannya
tepat di belangnya pusat kekuatan dan sekaligus kelemahan si Belang Uyang.
Perlahan-lahan nafas si Belang Uyang mulai tersendat dan akhirnya si Belang
Uyang mati ditangan majikannya sendiri.
Sambil menyesali perbuatannya,
Sang Raja menengok keatas, mencari sebab apa sebenarnya yang diincar oleh si
Belang Uyang. Sang Raja melihat seekor trenggiling nyempil diantara
langit-langit ruangan. Raja tersadar trenggiling tersebut adalah trenggiling
yang sempat dilihat dan hampir dibunuhnya saat di hutan. Seketika dia tersadar
akan dosa-dosa yang selama ini diperbuatnya. Tersadar akan kekejaman-kekejaman
yang dilakukannya bersama si Belang Uyang. Dimana hewan kesayangannya mati
ditangannya sendiri. Raja pun meminta maaf kepada rakyatnya dan juga berjanji
tidak akan mengganggu kehidupan hutan lagi.
Disini kita belajar, sekuat
apapun kita dan sebesar apapun kekuasaan kita, sudah pasti ada kelemahannya
atau sudah pasti ada akhirnya. Walaupun akhir dari semua itu datang tanpa kita
duga dan tanpa kita sangka. Maka dari itu, sekuat apapun kita, kita harus bisa
rendah diri dan teruslah berbuat baik kepada siapa atau apapun di dunia ini.
Rahayu
nb. Referensi dari cerita kakek saya.
TAMAT