Selasa, 21 Desember 2021

Hai Bos

 

Hai bos, bagaimana kabarmu disana? Semoga kau bahagia dan selalu tersenyum. Sebentar lagi tahun baru. Kita bikin acara apa ya? Apa mau manggang ikan lagi? Itu kan favoritmu. Tapi entahlah, kau sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan aku tidak tahu mau bikin acara apa. Mungkin aku akan cuma tidur lebih awal di malam tahun baru bersama cucu-cucumu. Dari lubuk hati aku tidak mau merayakan akhir dari tahun ini. Karena tahun ini adalah tahun paling kelam dalam hidupku.


Namun tidak semua kelam di tahun ini, Bos. Aku sudah mulai kerja walaupun hasilnya masih tidak seberapa, Bos. Harap maklum ya, aku ini terlalu bodoh atau apalah. Syukuri saja.

Bagaimana denganmu disana? Apa kau mendapat tempat yang layak? Aku harap iya. Dan harus iya. Tidak mungkin orang sepertimu mendapat tempat yang tidak layak.

Tapi sudahlah, aku tidak mau berpanjang lebar. Banyak yang aku ingin sampaikan sebenarnya, tapi hati ini terlalu penuh dan aku tidak tahu mulai dari mana. Tapi sudahlah, semoga kau selalu bahagia disana. Percayalah, aku akan baik-baik saja.

Happy New Year, my Bos...!

Sabtu, 05 Juni 2021

Bapak

Tiga bulan yang lalu adalah hari paling kelam dalam hidupku. Bapak yang sudah dua tahun terakhir berjuang melawan penyakit kanker telah meninggalkan kami untuk selamanya. Marah, emosi, sedih campur aduk menjadi satu. Tapi dibalik semua itu aku berusaha tegar, setidaknya sebagai anak aku harus menguatkan diri dan menguatkan keluargaku, terutama kepada ibuku, yang tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Mungkin sudah jalan takdir, bapak harus segera menghadap Tuhan. 
Dibalik semua itu, aku ingin menulis sesuatu disini. Sebuah hal yang aku simpan selama ini dan tidak seorangpun yang tahu, termasuk istriku. Sebenarnya dua minggu sebelum bapak meninggalkan kami semua. Ada hal yang begitu pilu yang sangat sulit aku ungkapkan kepada siapapun. Saat suatu malam aku menjaga bapakku yang terbaring lemas, menggantikan ibu yang terlihat sudah begitu lelah. Sempat bapak berkata "bapak seduk (bapak lapar)", seketika air mataku keluar mengalir kencang. Dimana saat itu kondisi bapak memang sulit makan karena kerongkongannya sudah terganggu. Aku mencoba memberinya jus yang sudah disediakan oleh ibu. Namun dimuntahkan karena makanan atau minuman apapun sudah sulit masuk. Satu cara agar kondisi bapak stabil cuma melalui infus. Aku begitu sedih, perih seakan-akan ingin menjerit rasanya. Biasanya bapak walaupun sulit makan dan minum tidak pernah sampai bilang lapar. 

Aku berusaha berpikir logis. Daripada bapak menderita dan tersakiti seperti ini, aku iklas, kalau memang sudah jalannya bapak harus pergi, aku iklas, aku rela. Daripada bapak terus-terusan sakit dan tampak tidak ada harapan untuk bertahan. Aku pegang tangan bapak saat itu sambil berkata dalam hati "Pak, kalau memang bapak akan pergi, aku iklas, berjalanlah dengan damai, aku tidak apa-apa, ibu biar aku yang jaga. Tapi aku mohon sesuatu untuk terakhir kalinya, tanggal 26 Pebruari adalah ulang tahun Satya (anak pertamaku), 4 Maret adalah ulang tahun Astra (anak keduaku), pergilah setelah ulang tahun mereka, aku sudah terlanjur berjanji ke Satya untuk ngerayain ulang tahunnya dan adiknya. Bapak tahukan, kalau sudah berjanji ke Satya, itu harus ditepati. Pergilah dengan damai setelah ulang tahun mereka. Mungkin aku kurang ajar, sudah tahu bapak sakit malah minta ini itu. Maafkan anakmu ini Pak."

Ulang tahun Satya berlalu dengan lancar dengan acara kecil-kecilan. Begitupun ulang tahunnya Astra. Saat ulang tahun Astra, bapak sempat mengelus-ngelus tangannya Astra. Walaupun tidak mengucapkan sepatah kata apapun, cuma menyapa dengan senyum. Dan tepat besoknya tanggal 5 Maret bapak pergi untuk selamanya. Seakan-akan menungguku, bapak pergi saat aku memberi bantuan oksigen saat itu. Dimana saat itu aku baru pulang dari menjemput Satya sekolah. Terima kasih pak, sudah menungguku sampai aku tiba dirumah, terima kasih karena sudah mengabulkan permintaan terakhirku untuk cucumu, dan terima kasih untuk segalanya. Tenanglah disana, aku bersama ibu, Ade istriku, Satya dan Astra cucumu akan pasti baik-baik saja.

Senin, 28 Desember 2020

Silsilah Keluargaku, Klan Kaje Kauh Banjar Laplapan, Petulu, Ubud

Silsilah keluarga kami diawali dengan kedatangan leluhur saya yaitu Pekak (Kakek) Sandeh dengan istrinya Dadong (Nenek) Genep dari Banjar/Dusun Nagi, Desa Petulu, Kecamatan Ubud yang mondok (bikin rumah baru) ke Banjar Laplapan, Desa Petulu,Kecamatan Ubud. Banjar Laplapan sendiri berada disebelah timur Banjar Nagi dengan berbatasan Sungai Petanu. Sehingga posisi rumah kami paling barat laut di Banjar Laplapan sehingga kami suka menyebut keluarga kami Klan Kaje Kauh. Kaje Kauh sendiri berarti Barat Laut.

Pekak Sandeh dan Dadong Genep mempunyai tujuh orang anak yang terdiri dari empat laki-laki dan tiga perempuan. Dari laki-laki yang pertama bernama I Lempod, menikah dengan Ni Kelepon (dari Laplapan) dan mempunyai dua anak laki-laki bernama Wayan Purna dan Made Doblet. Kemudian Ketut Ceeg, menikah dengan Nyoman Raneh (dari Banjar Nagi) mempunyai dua orang anak juga bernama Wayan Gede dan Made Japa. Kemudian I Nyoman Cuug menikah dengan Wayan Kereceb (dari Nagi), tapi tidak mempunyai anak. Dan anak laki-laki terakhir bernama I Sukeh, namun meninggal saat masih lajang karena kecelakaan.

Anak-anak perempuan Pekak Sandeh dengan Dadong Genep yang pertama bernama Ni Pageh, menikah ke Banjar Sala, Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampak Siring. Yang kedua bernama Ni Rengo, menikah ke Desa Blahbatuh, Gianyar. Anak perempuan terakhir bernama Ni Riok, namun meninggal saat masih muda karena sakit.

Keturunan Pekak Lempod dengan Dadong Kelepon yaitu Wayan Purna dan Made Doblet. Wayan Purna menikah dengan Luh Nyoman Kerti (dari Laplapan), mempunyai empat anak dimana laki-laki semua bernama Wayan Jati, Made Jatu, Nyoman Sumadi dan Ketut Budiarsa. Made Doblet menikah tiga kali, dari istri pertama bernama Ni Bawak (dari Laplapan) mempunyai seorang anak laki-laki bernama Wayan Sukadana. Dari istri kedua yaitu Ni Tengkrig (dari Laplapan) mempunyai dua anak perempuan dan seorang anak laki-laki, bernama Ni Made Rusni, Nyoman Suarni dan Ketut Sudarmayasa. Dengan istri ketiga bernama Nyoman Nardu (dari Laplapan) tidak mempunyai anak. I Made Doblet menikah sampai tiga kali karena istri pertama dan keduanya meninggal. Dan kedua anak perempuan Made Doblet dua-duanya menikah di Laplapan.

Keturunan Ketut Ceeg dengan Nyoman Raneh yaitu Wayan Gede dan Made Japa. Wayan Gede menikah dengan Made Keser (dari Laplapan) mempunyai tiga anak perempuan dan satu laki-laki masing-masing bernama Wayan Asri, Made Nesi, Nyoman Ratih dan Ketut Partayasa. Ketiga anak perempuan Wayan Gede menikah di Laplapan. Dan Made Japa menikah dengan Made Rapig (dari Laplapan) mempunyai dua anak laki-laki dan seorang perempuan masing-masing bernama Wayan Susila, Kadek Ekawati dan Nyoman Tirtayasa. Kadek Ekawati menikah ke Kabupaten Jembrana. Dari anak-anak tersebut kami uraikan ke masing-masing paragaraf berikut.

Wayan Jati menikah dengan Made Wangi (dari Laplapan) mempunyai satu anak laki-laki dan satu perempuan masing-masing bernama I Wayan Ariarta Negara dan Ni Made Novina Pratiwi Putheri. I Wayan Ariarta Negara menikah dengan Ni Made Widiasih (dari Laplapan) mempunyai dua anak laki-laki bernama I Wayan Andra Satya Negara dan I Made Astra Cahaya Negara. Sedangkan anak perempuan Wayan Jati menikah ke Desa Mambal, Badung.

Made Jatu menikah dengan Ketut Suci (dari Laplapan) mempunyai satu anak laki-laki dan dan satu perempuan masing-masing bernama I Wayan Pasek Muliawan dan Ni Made Lisna Dewi. Ni Made Lisna Dewi sudah menikah ke Banjar Nagi. I Wayan Pasek Muliawan menikah dengan Ni Ketut Suwantari dari Desa Keliki Kecamatan Tegalalang.

I Nyoman Sumadi menikah dengan Ni Wayan Yunitri (dari Laplapan) mempunyai dua anak perempuan dan satu laki-laki masing-masing bernama Ni Wayan Adi Wahyuni, Ni Made Wina Mahayudi dan I Nyoman Adi Dananjaya. Sementara belum ada yang menikah.

I Ketut Budiarsa menikah dengan Gusti Ayu Kesamawati (dari Lingkungan Candi Baru, Gianyar) mempunyai satu anak perempuan dan satu laki-laki masing-masing bernama Ni Putu Ayu Budi Savitri dan I Kadek Citta Budi Kusuma. Sementara belum ada yang menikah.

I Wayan Sukadana menikah dengan Ni Nyoman Rasni (dari Laplapan) mempunyai dua anak laki-laki dan satu perempuan masing-masing bernama I Wayan Gede Yoga Agustina Putra, Ni Made Yuni Candra Dewi dan I Komang Candra Wiguna. Sementara belum ada yang menikah.

I Ketut Sudarmayasa menikah dengan Ni Ketut Karyatini (dari Laplapan) mempunyai satu anak laki-laki yaitu I Wayan DD Ferdinan dan satu perempuan bernama Ni Kadek DT Ferdianti. Sementara belum ada menikah.

I Ketut Partayasa menikah dengan Ni Luh Made Sukerti (dari Laplapan) mempunyai satu anak perempuan bernama Ni Wayan Bella Santika Dewi dan satu laki-laki bernama I Kadek Bello Setiawan. Sementara belum ada menikah.

I Wayan Susila menikah dengan Ni Komang Suastini (dari Desa Serongga, Gianyar) mempunyai satu anak laki-laki bernama I Gede Jossy Pandita. Sementara belum menikah.

I Nyoman Tirtayasa menikah dengan Ni Putu Eka Parmawati (dari Laplapan) mempunyai dua anak laki-laki dan satu perempuan masing-masing bernama I Gede Agastya Tinov, Ni Kadek Sesca Parmawati dan I Komang Abi Mahasastra. Sementara belum ada menikah.

Demikian silsilah keluarga kami, diupdate Hari Selasa Tanggal 11 Oktober 2022. Semoga kelak bisa dibaca oleh keturunan-keturunan kami di masa mendatang.








Rahayu........




Sabtu, 04 Februari 2012

sejarah desaku, Desa Laplapan


  

Desa Pakraman Laplapan adalah satu kesatuan Desa Pakraman yang mana terdiri dari satu banjar yaitu Banjar Dinas Laplapan. Secara geografis terletak di Desa Pejeng Kawan, tetapi secara hukum kedinasan termasuk wilayah Desa Petulu, Kecamatan Ubud dimana keberadaannya diapit oleh dua sungai, yaitu sebelah barat adalah Sungai Petanu dan sebelah timur adalah Sungai Kelantung. Laplapan disimak dari asal kata yaitu Lap-Lap diakhiri akhiran An yang menunjukkan suatu tempat menurut lontar Usana Bali ataupun Dewa Purana “Wekasang Jagat Laplapan ngaraniya reh ring akasa wenten sinar kelap-kelap pemurtian sira si Mayadanawa” berdasarkan prasasti Tirta Empul bertahun saka 919 SM dikisahkan : Seorang Prabu yang memerintahkan di Kerajaan Bataanyar di desa Bedulu sekarang bernama Prabu Jayapangus mempunyai putra yang bernama Sri Mayadenawa, karena panugran Dewi Danu sehingga Mayadenawa amat sakti, tidak bisa dikalahkan manusia, para dewa, raksasa. Sehingga beliau takabur, sombong dan menganggap dirinya sebagai dewa. Suatu ketika beliau menghancurkan siwa loka dengan para patihnya yaitu I Kala Wong, I Gudug Basur dan yang lainnya. Keadaan seperti inilah didengar oleh Sang Hyang Pasupati di Gunung Semeru dengan sabdanya diutus Dewa Indra untuk memerangi Mayadenawa dengan mohon restu kepada putra-putra beliau yang berstana di Bali, diantanya :


1.      Hyang Gni Jaya di Gunung Lempuyang
2.      Hyang Putra Jaya di Gunung Agung
3.      Hyang Tugu di Gunung Andakasa
4.      Hyang Dewi Danu di Gunung Batur
5.      Hyang Manik Galang di Pejeng
6.      Hyang Tumuwuh di Gunung Batukaru
7.      Hyang Manik Gumawang di Gunung Bratan (Puncak Mangu)

     Maka suatu ketika diperangi Mayedenawa dari arah barat daya, karena merasa kewalahan Si Mayadenawa menjadi kabur menuju ke arah utara , dimana tempat ini menjadi tempat perang tanding antara Dewa Indra dengan Mayadenawa, karena dilempar kereta Dewa Indra dengan senjata Mayadenawa dan hanguslah kereta Dewa Indra.Dan tempat ini dinamakan titiapi artinya jembatan api, lama-kelamaan dinamakan Tatiapi, dan terus dikejar maka Si Mayadenawa terbang di udara, dengan cara ini memperlihatkan diri lagi hilang  atau kelap-kelap karena memilki Ajian Pancasona, lama kelamaan tempat ini menjadi Desa Laplapan. Terus dikejar yang akhirnya sampai sekarang ada desa Melayang, Sembuwuk, Belusung, Sanding, Mancawarna, Tampaksiring, Manukaya yang wujudnya terus berubah-ubah dan akhirnya si Mayadenawa dapat dibunuh yaitu di suatu tegalan dekat dengan  banjar Sareseda dan darahnya mengalir menjadi Sungai Petanu yang artinya : Peta dalam bahasa Bali artinya suara dan Nu artinya masih, karena sebelum mayadenawa meninggal dia mengutuk bahwa dalam rentang waktu 1000 tahun aliran sungai Petanu tidak boleh airnya dipakai untuk pengairan sawah, seandainya ada, apabila dia memanen padi atau mengetam akan keluar darah dari batang padi itu sendiri.”
Demikian sekilas asal-muasal Desa Adat Laplapan secara geografis maupun secara adat.

    Diatas telah dikemukakan bahwa secara kedinasan Banjar Laplapan termasuk wilayah hukum Desa Petulu, Kecamatan Ubud. Menurut Prasasti tahun 1887 yang masih disimpan di Puri Agung Peliatan, dikemukakan sebagai berikut: Bahwa sekitar tahun 1870 setelah runtuhnya Kerajaan Bedahulu dengan Expedisi Maha Patih Gajah Mada pada tahun 1343, dengan Raja yang terakhir yaitu Sri Tapolung atau para ahli menyebut gelar Sri Asta Sura Ratnabumibanten karena menurut para ahli bahwa Kerajaan Bedahulu dengan Kerjaan Pejeng adalah kerajaan Bali Kuno dan dekat,serta mungkin ada hubungan kekerabatan, sedangkan Desa Laplapan jamannya itu masih ada dibawah kerajaan Pejeng yang diperintah oleh Ida Dewa Agung Pemayun dan kita bisa lihat di Pura Penataran Desa Laplapan masih tersimpan beberapa arca yang terbuat dari batu dan Pusat Pemerintahan Bali yang sebelumnya pernah exis di Kerajaan bedahulu yaitu Prabu Asta Sura Ratna Bumi Banten dan juga pernah exis kerjaan besar di Bali yaitu dinasti Singamandawa yang berada disekitar DAS(Daerah Aliran Sungai) yaitu Sungai Pekerisan dan Sungai Petanu. Dan setelah runtuhnya Kerajaan bedahulu dengan Expedisi Maha Patih Gajah Mada, akhirnya pusat kerajaan Bali pindah ke Gelgel atau Sweca Pura. Cikal bakal keturunan Dalem Sukawati yang jumenek di Puri Peliatan yang bernama Tjikorda Agung Jelantik yang memerintah Kerajaan Sukawati belahan utara dan sepupu beliau jumenek di Puri Ubud yaitu Tjokorda Putu Sukawati Ubud ingin mengadakan perluasan wilayah, maka diseranglah kerajaan Pejeng oleh Kerajaan Peliatan dengan sekutunya. Akhirnya kerajaan Pejeng mengalami kekalahn maka sebagai tanda kemenangan diambilah desa Laplapan sebagai wilayah dari pada desa Peliatan, sedangkan orang-orang asli penduduk Laplapan karena sudah kalah, maka ada yang mengungsi ataupun masih tetap tinggal di Laplapan maka  suatu ketika orang-orang yang masih tinggal di Desa Laplapan  merasa takut sekali dengan keadaan, maka kejadian ini dilaporkan ke Puri Peliatan dan pihak Puri Peliatan akhinya mengutus masing-masing Banjar yang ada di Peliatan agar mau ke Laplapan untuk menempati wilayah itu sendiri, dengan catatan harus nuntun Ida Betara ring Dalem Puri Peliatan. Menurut buku Karya Dalem Puri Tahun 2003 dan sejak itu sampai sekarang masih mentradisi setiap ada Upakara di Pura Dalem Laplapan, baik itu sepen maupun 3 hari tetap mohon tirta ke Pura Dalem Puri Peliatan  dan sampai saat ini penduduk Laplapan banyak yang berasal  dari Desa Peliatan seperti Br.Tengah, Br. Pande, Br. Tebasaya, Br. Ambengan serta dari Padang Tegal dimana kita tahu bahwa Banjar Padang Tegal adalah kekuasaan dari Kerajaan Peliatan. Masuknya ke wilayah hukum Desa Petulu bahwa Petulu adalah Manca Peliatan/bawahan Peliatan karena jamannya itu Peliatan adalah distriknya Ubud. Punggawa atau jaman sekarang disebut kecamatan dan pernah sebelum jaman kemerdekaan Belanda tahun 1925 yang menjadi Punggawa Puri Ubud Ida Tjokorda Agung Sukawati pernah dipinang Desa Laplapan agar kembali lagi masuk wilayah Pejeng oleh Ida Tjokorda Pemayun, tetapi tidak dikasi sma punggawa Puri Ubud. Kesimpulannya secara adat tetap masuk wilayah Pejeng, tetapi secara hukum kedinasan tetap masuk wilayah Ubud.

Sumber : Eka Ilikita ST. Dhara Pita Kencana, Br. Laplapan